si buku tebel yang mahal

Labels: ,

oke, jadi mungkin ini saatnya aku posting tentang ini. sebenernya udah dari kemaren2 memendam segala rasa yang tertinggal ini *halah*, cuman sperti yang udah diajarin, bahwa posting itu kudu objektif, jangan subjektif, makanya nunggu emosinya mereda dulu.

cerita berawal ketika sudah memasuki semester 5. kita2 di kelas 3E penilai PBB dapet sebuah mata kuliah baru, yaitu Penagihan Pajak. dosennya bernama bapak xxxxx. beliau adalah widyaiswara, dan terakhir golongannya adalah 4E,, *wooowww*.

nah, dari awal kita udah dikasih tahu sama ni dosen kalau sampai saat ini belum ada buku diktat Penagihan pajak yang selengkap buku yang disusun sendiri oleh bapak tersebut. beliau juga mengatakan bahwa putranya kini bisa menjadi kepala kantor karena mempelajari buku itu.


buku setebal 300an halaman itu direkomendasikan oleh sang dosen, beliau mengatakan, "saya tidak mewajibkan, tapi dalam buku ini sudah update peraturan-peraturan terbaru dan SE-SE yang baru pula. ngga ada buku yang lain yang sudah update seperti buku ini".

jadilah kami disuruh pesan tuh buku, dengan cara membubuhkan tanda tangan di nama pada daftar absen. banyak yang bertanya mengapa harus tanda tangan dan harus di daftar absen pula? bukannya cukup ngesih tau aja berapa jumlah yang pesen dan urusan selesai?? 
 
sang dosen pun menjawab, "supaya saya tahu persis siapa yang pesen, kan saya rugi kalau sudah terlanjur dicetak, tapi ternyata ga jadi pesen"

oke, jadi ada sekitar 19 orang anak yang beli buku seharga 125ribu  itu *termasuk aku, karena bujuk rayu dari ketua kelas dan karena nasihat dari siberuang*. setelah daftar pesanan diserahkan ke sang dosen, beliau pun memberi penjelasan kepada ketua kelasku.

"di buku ini tu 75% studi kasus, dan sisanya teori. kalau buku lain paling studi kasusnya cuma 30%", dan penjelasan2 lain mengenai isi buku tersebut. yang membuat kami sedikit bertanya2 heran, beliau menjelaskan bahwa bagi yang tidak membeli buku karya beliau, harus datang ke kantor DJP pusat dan meminta Surat Edaran2 yang baru. konsekuensi kedua adalah bagi yang tidak membeli maka diberi latihan soal 2 minggu sebelum ujian. konsekuensi ketiganya, beliau bilang soal ujian midsemester dan akhir semester mengambil dari buku itu.

sooo... bisa lia kejadian selanjutnya, ada 31 orang yang akhirnya memutuskan untuk membeli buku tebel tersebut. kita sempet merasa ngga ikhlas, bahkan ada yang misuh2.. karena kita ngerasa bahwa fokus utama kita adalah sebagai penilai, bukan sebagai penagih pajak. *ya walopun kita ngga pernah tahu seperti apa masa depan kita ya kan..*

mungkin tujuan dosen itu baik, dia cuman pengen memudahkan kita aja dalam mendapat nilai bagus... cuman aku ngga suka aja dengan caranya.. apalagi terdengar kabar kalau tiap tahun harga buku fotocopyan itu naik... ya, cuman fotocopyan... hmmm... mudah2an suatu saat nanti ada yang berminat menerbitkan buku ini, jadi beliau ga perlu susah susah fotocopy... dan kita pun merasa lebih puas... karena, walopun udah bayar mahal 125rb, tapi dapet kualitas buku yang bagus, ngga sekedar fotocopyan... ya ngga...?



2kata temen-temen: