two side of a coin

Labels: , , , ,



aku sering heran sama jalan pikiran orang lain.
oh, i mean, jalan pikiranku sendiri.

kata siberuang, aku orangnya terlalu baik. ok aku akuin, emang aku ga tegaan sama orang. tapi maskud dia kan baik yang itu, bukan baik yang gimana,,, mungkin lebih ke arah yang ga mudah tega atau gampang iba sama orang. and thats me, i couldn't change it, and i think i should keep this characteristic, rite?

kejadiannya waktu acara wisuda kemaren.  Kebetulan aku jadi salah satu panitia Wisuda STAN 2009. nha, saat berlangsungnya prosesi wisuda, ada seorang bapak2 yang merupakan pendamping tunggal dari wisudawan *fyi, setiap wisudawan memiliki hak untuk membawa serta maksimal 2 orang pendamping untuk masuk di ruangan plenary JCC*, curhat sama kita2, mengatakan bahwa undangan yang seharusnya dia bawa untuk ditunjukkan sebagai tanda masuk plenary, terbawa oleh anaknya. sedangkan ia sendiri terpisah dari putranya dan putranya sendiri telah masuk ke plenary *kalo udah masuk, ga boleh keluar2 lagi, thats the regulation*.

reaksi pertamaku sat itu adalah : langsung percaya.

iya, percaya aja gitu, dan merasa iba juga sama bapaknya, soalnya kelihatan dia emang dari daerah, dan dia pun telah membayar uang wisuda. and he deserve the place somewhere inside the plenary.

langsung aja kan aku hubungin panitia lain yang kira2 bisa bantuin masukin dia ke hall. aku jelasin kondisinya, gini-gitu.bla-bla-bla. and temenku itu bilang, "oke, aku hubungin 'atasan' aku dulu. tar aku kabarin".

lega aja gitu denger paling ga udah ada kepastian buat bapak itu....

tapi beberapa saat kemudian temenku itu tadi callinng me, and he said "ga boleh masuk, kata atasan ku itu cuma akal2an dia doank buat masuk".

pay attention to the bold texts. dia ga percaya.

oh,, oke. tiba2 aku jadi merasa aneh dengan diriku sendiri. apa jalan pikiranku ini terlalu aneh? mudah percaya sama orang, mudah iba sama orang, saat orang lain begitu mudah tidak percayanya sama orang, dan berprasangka buruk sampai2 ngeluarin kata2 "akal2an".

maybe, it's just my tendency to look another poeple in a good way. or maybe it's just me who think it too badly. dan memang posisiku saat itu mungkin jadi terlalu objektif untuk menilai.

dan memang beberapa saat kemudian bapak2 itu bisa masuk by some way i won't mention here... and maybe, situasi saat itu memang mengharuskan orang untuk mersikap lebih hati2 dan waspada. bapak itu juga belum sepenuhnya bener, kenapa juga dia bisa sampe lupa undangannya....

the point is,
i just can't figure out why sometimes my mind didn't find its better way to think....

0kata temen-temen: