aku sudah kembali

Labels: , ,




Aku sudah kembali. And this is my first day in magelang, my hometown. Kota yang tak lagi menawarkan dinginnya padaku.

Kembali ke Magelang sama saja sepeti bangun dari mimpi. Begitu banyak kenyataan-kenyataan yang aku anggap hilang selama ini, dan banyak pula fakta-fakta yang seharusnya menuntut perhatianku namun aku mengkamuflasekannya dengan beitu rapi, sampai-sampai aku lupa pada mereka.

Yaitu, masalah ekonomi keluargaku.

Aku tidak biasa mengutarakan keadaan pribadi ini di sarana publi, akan tetapi rasa-rasanya aku harus mulai jujur kepada diri sendiri. Dan dimulailah kontemplasi di malam tanggal 23 Desember 2009 ini.
Oh, aku rasanya begitu ingin menampar diriku sendiri. Kenapa aku se-tidak peka ini? Kenapa aku selalu berusaha membohongi dan menutupi kenyataan?. Bahwa aku tidak prihatin! Bahwa aku lupa! Bahwa aku pura-pura ngg tahu dan ngga mau tahu!

Di sini, di rumah nan kecil ini, orang tuaku kerja siang-malam, dengan sangat keras mengumpulkan serupiah demi rupiah, hanya untukku dan adik-adikku. Orangtuaku berdoa siang dan malam, itu hanya untukku dan adik-adikku. Kenapa aku tidak malu? Hampir 21 tahun aku hidup bergantung pada mereka, tapi apa yang telah aku lakuin? Ngga ada, nothing, NOL BESAR, omong kosong!

Bahkan apa aku peduli ketika 5 hari ibu tidak meneleponku? Apa aku bertanya balik bagaimana kabar mereka ketika orang tuaku bertanya tentang kabarku? Apa aku sebegitu sombongnya, bahkan saat tadi aku melihat raut lelah ibuku dikamar, setelah semalam begadang menugguku pulang, aku hanya diam dan kmbali k kamarku sendiri? Susahkah untukku hanya untuk menawarkan pijatan kecil di bahunya, dan menanyakan kesehatanyya?

Apa yang aku lakukan?

Sementara orangtuaku di magelang kerja keras dan berdoa banyak, apa yang aku lakukan di perantauan? Aku bersenang-senang. Aku tidak bisa kalau makan siang tidak pakai ayam atau rendang. Aku tidak bisa kalau dalam satu minggu saja tidak nonton film di bioskop. Aku juga tidak mau berepot-repot menghemat uang jajan untuk barang-barang lucu dan tidak berguna itu. Aku bertingkah seakan-akan aku punya uang banyak, aku bisa beli apa saja, aku menghamburkan uang untuk hal-hal sepele, dan konsumtif.

Apa selama itu aku ingat uang siapa yang aku gunakan untuk bersenang-senang? Apa aku INGAT? Dan apa aku juga tahu bahwa di setiap lembar uang yang aku ambil dari ATM itu ada tetes keringat, ada tetes tangis, ada sebongkah doa buatku, sedangkan aku tidak bertanggung jawab atasnya??

Aku munafik, munafik sekali. Entah apa yang aku pikirkan selama ini, sombongkah aku hanya karena merasa sudah dewasa, padahal ternyata aku tidak dewasa selama ini?? Lalu aku juga sombong karena merasa bisa mengganti semua yang telah mereka lakukan kelak, hanya karena ada jaminan aku akan bekerja layak nantinya? Ykin, akan ada jaminan untuk itu?

Apa aku ingat kapan terakhir kali aku berdoa untuk kedua orang tuaku? Apa aku masih ingat kapan terakhir kali aku menelepon ayahku, dan bahkan apakah saat idul itri kemarin aku sudah meminta maaf pada mereka berdua???

Aku sedih, sedih sekali. Kenapa aku bisa seegois ini. Tadi ibu bilang, bahwa biaya listrik untuk rumah naik lagi sepuluh ribu rupiah. Bagi beliau, sepuluh ribu adalah uang yang sangat berharga. Asal tahu saja, beliau berhasil menyekolahkanku hingga SMA dan kini kuliah ini, karena tabungan bliau yang tiap hari seribu perak seribu perak itu. Tapi apa yang aku lakukan, uang sepuluh ribu mungkin hanya akan habis dalam hitungan jam di warnet, atau bahkan menit di warung makan.

Sesiang ini aku juga ogah-ogahan makan, karena ibu hanya memasak ikan asin, sayur nangka dan gorengan tahu. Dan menu yang sama juga untuk makan malam. Apa aku lupa, bahawa menu itu adalah menu istimewa untuk ibu? Beliau bahkan bersedia makan nasi dan garam saja, asal bisa mengumpulkan uang untukku dan adik-adikku. Dan apa yang telah aku lakukan? Aku menghambur-hamburkan semuanya.

Sudah BUTA kah aku? Sudah BUTAkah mata hatiku, hingga tak mampu melihat ketegaran bapak dan ibu dalam menjalani detik detik kehidupan hanya untuk anak-anak mereka?

Apa aku masih pantas disebut sebagai seorang anak? Ya mungkin, Anak yang tak tahu diri. Dan aku bersyukur, masih mendapat kesempatan malam ini, kembali ke rumah kecilku, menyadri semua ini, dan berharap (serta mencoba) agar aku bisa membuat orang tuaku tersnyum, bangga dengan anak-tak-tahu-diri ini.




1 kata temen-temen: