Sepotong Hujan di Penghujung Bandung

Labels:

Judul yang agak puitis kah? ahaha.. mungkin ya,, tapi itulah yang kurang lebih aku rasakan ketika akan meninggalkan Bandung. Jujur selama 3 tahun di Jakarta, belum pernah sekalipun aku ke Bandung. I mean, ke kotanya, yang katanya surga belanja, yang katanya Paris van Java, yang merupakan tempat orang-orang metropolitan melarikan diri dari hiruk pikuk Jakarta tiap minggunya.
Dan kemudian ide itu serta merta muncul entah dari mana, aku dan siberuang nekat ke Bandung. kami sama-sama belum pernah ke Bandung, sama-sama buta arah di Bandung, dan sama-sama tidak punya sanak saudara atau kerabat atau teman di sana. Namun rencana dadakan itu toh kita jalani juga akhirnya.
Dengan memakai jasa salah satu travel yang ada di Bintaro--yang menurut kami menawarkan harga paling murah--berangkatlah kami hari Minggu, 22 November 2009 pukul 6.15 pagi--sebenarnya suatu hal yang istimewa buatku karena aku jarang bisa bangun pagi. Menempuh perjalanan sekitar 3 jam melewati jalan tol, aku dan siberuang sibuk menatap hamparan bukit dan lembah yang kehijauan. Indah, ini terlalu indah untuk mengawali hari ini. Bahkan sebelum sampai di Bandung pun kami sudah cukup terkesima, seolah sudah cukup obat stress dan kepenatan pada liburan ini.
Kendaraan pun kemudian mulai memasuki daerah padat pemukiman. Aku sudah yakin, kami sampai di BANDUNG. Akhirnya. Berbekal semangat, kami turun di daerah Dago. Karena belum sarapan, kami memutuskan untuk sarapan dulu. Menemukan sebuah warung di pinggir jalan bertuliskan : Nasi Timbel. hmm,,, pilihan yang pas sepertinya, aku sendiri juga belum pernah merasakan nasi timbel seperti apa.
Jadi, nasi bakar+lauk ikan yang masih mentah untuk kemudian digoreng sesuai keinginan kita+lalap+tempe dan tahu bacem+teh anget tawar+saus+sambal.OHH. Akhirnya aku merasakan nasi timbel juga. Harganya juga cukup murah, hanya sekitar 12.000 untuk 2 porsi makan besar. Sembari makan, kami memanfaatkan situasi itu untuk bertanya-tanya tentang rute perjalanan di Bandung pada penjualnya. Ini merupakan tips yang bagus menurutku, karena penjual yang baik akan dengan senang hati memberitahukan rute-rute perjalanan yang bagus untuk Anda, dan disertai penjelasan mengenai tarif ojeg, angkot, dll, sehingga kita ngga akan tertipu nantinya.
Akhirnya kita mendapatkan rute sebagai berikut : Taman Hutan Raya Ir. Juanda-Gedung Sate-Museum Asia Afrika-Bandung Tempo Doeloe-Cihampelas. Berangkatlah kitaaaaa....
Dengan naik angkot sekali (Rp 2000) dan ojeg sekali (Rp 5000) sampailah kita di sebuah hutan cemara yang sangat asri. waktu itu aku pikir Tahura ini isinya ya cuma hutan saja. Namun ternyata di dalamnya kami menemukan ada banyak sekali tempat yang bisa jadi tujuan. Yang paling dekat dan menarik adalah Gua Jepang dan Gua Belanda. Hanya cukup berjalan sekitar 1 km saja. Ngga akan terasa capek kok, karena sepanjang jalan kita akan sibuk menghirup udara yang benar-benar segar, dan sibuk melihat pepohonan yang sangat rimbun.

kerimbunan pohon cemara di Tahura
kerimbunan pohon cemara di Tahura

Gua Jepang tampak dari luar
slagi pose di depan Gua Belanda
note : sebelum jalan-jalan ke sini, ada baiknya kalau kamu persiapan alat penerangan, kaya senter atau semacamnya, karena di dalam gelap banget.  Memang ada sih yang nawarin senter buat disewa, seharga Rp 3000 aja, tapi akan sangat terasa mubazir karena ngga bakal digunain lama-lama, paling cuman bentar doang.  Selain itu, siapkan uang pas. Karena ternyata selama memandu di dalem, si orang yang nyewain senter bakal meminta uang jasa guide "seikhlasnya". Artinya, kalau kamu ngasih Rp 5000, jangan harap ada kembalian. begitu juga Rp 10.000 atau seterusnya.
Nah.. selanjutnya sebenernya peeengeeeennn banget ke curugnya.. tapi begitu melihat papan penunjuk jalan kalau curugnya masih 4 km lagi, fyuh..langsung drop deh semangat kita. Mau ngga mau kan harus naik ojeg tuh ke sananya. Karena tempat tujuan kami masih banyak, dan kami takut energinya terkuras, akhirnya kami memutuskan untuk tidak pergi ke curug. hiks, sedihnya, tapi it's oke lah...

Ngintipin Gedung Sate
Ngintipin Gedung Sate
Next Destination : Gedung Sate yang terletak di Surapati kalau ngga salah. Naik angkot sekali dari Tahura, langsung disambut dengan pasar hari minggu yang memang biasa digelar di sana. rameee pisaaaannnnn. Jadi ngiler pengen belanja deh, soalnya murah-murah banget.suasana pasar minggu.

suasana pasar minggu
keamaian pasar minggu
inget ! hArus ekstra hati-hati! soalnya pasar minggu digelar di piggir jalan yang sangat ramai dan padat pengunjung. Jadi kalau ngga hati-hati bisa-bisa ketabrak atau kesrempet. Selain itu, kamu harus punya mental yang kuat untuk berada di sini, khususnya bagi para cewe-cewe, soalnya nafsu belanjamu ngga akan tertahankan : murah-murah semua!. Dan kalau kamu menuruti nafsumu, bisa-bisa kocekmu udah abis dalam sekejab!
Kemudian kami tanya-tanya ke orang-orang, persiapan untuk ke tempat berikutnya : museum Asia Afrika. Sayangnya, menurut keterangan, letaknya cukup jauh. Kami pun memutuskan untuk jalan-jalan aja dulu. Eh, begitu jalan bentar  ternyata kami menemukan ada Museum Geologi, ngga jauh dari Gedung Sate.

Ada Beruang turun ke Kota! hihihi
Ada Beruang turun ke Kota! hihihi
Dan ternyata aku sangat cintaaaaaa geologi..sekaligus sejarah! bener-bener amazing deh murutku museum geologinya... Ada banyak koleksinya, mulai batu-batuan, fosil tulang hewan purba, dan berbagai pengetahuan tentang sejarah kehidupan. Bahkan ada sebuah teori mengenai Pemusnahan Massal. hiii.. ngeri deh...


awas ada t-rex!
awas ada t-rex!
 
teori kepunahan massal
 
Setelah puas mengelilingi museum Geologi, kita pun sholat. eh.. rencana sehabis sholat mau ke Museum Asia Afrika pun gagal, karena ternyata kami dihadang hujan deraaaaaasss banget... kita pun berteduh sambil ngemil2 di masjid hingga hujan reda, sekitar pukul 3 sore. karena kami sadar waktu sudah sore dan kita harus kembali  ke Jakarta sore itu juga, maka pulanglah kami menuju cihampelas terlebih dahulu untuk berbelanja.
Cihampelas seperti biasa selalu ramai, dan banyak orang berbelanja di sana sini.. apalagi itu adalah hari treakhir libur, jadi wajar lah orang menutupnya dengan membeli oleh2.. sayangnya aku tidak sempet belanja, karena kita dapet kabar buruk bhawa travel nya abis dipesen semua. hampir semua agen travel sudah habis dipesan. hiks. kita menyesal kenapa ngga pesen tiket dari tadi pagi.. tapi toh penyesalan tidak mengubah apa-apa.. jadi kita terpaksa naik bis.. 
Sore itu kami meninggalkan Bandung saat hujan, damai dan tenang, dengan banyak pohon yang basah dan jalan yang basah pula. Entah kenapa, aku jadi jatuhcinta pada kota yang satu ini. meskipun jalan2 di sana hampir satu arah semua, tapi aku suka suasana hujannya,, yang teduh dan tenang itu..
aku akan kembali lagi,pasti!

0kata temen-temen: