NEW YEAR BOOK GIVEAWAY

9

Hello there,
New years is coming. Lets celebrate it with: books!

i am going to hosting a giveaway of this book:


Yes, OPPOSITE OF FATE by Amy Tan. This is the synopsis...


Terlahir dalam keluarga yang percaya pada takdir, Amy Tan selalu mencari cara-cara alternatif untuk memahami dunia. Dalam The Oppsite of Fate, Amy membagi pengalamannya dalam melepaskan diri dari ekspektasi-ekspektasi dan kutukan-kutukan masa lalunya, serta menciptakan takdirnya sendiri.

Amy Tan bercerita tentang keluarganya, hantu-hantu penghuni komputernya, perjalanan main ski, rock and roll
bersama Stephen King dan kawan-kawan, serta misteri-misteri yang mengaitkan keyakinan dan takdir. Perjalanan hidupnya tidak kalah ajaib dan menarik dibandingkan karya-karya fiksinya, dan penuturannya yang penuh humor dalam buku ini membawa kita untuk memahami takdir serta lawan-lawannya, yakni pilihan-pilihan pribadi, pengaruh-pengaruh, serta kebetulan-kebetulan menguntungkan yang membentuk kita semua.


And hey, if you are like to join this givaway, simply click on my book-blog.

Sempurna

2


Sebenarnya, kesempurnaan adalah ketidaksempurnaan itu sendiri. 

thats why nobody's perfect

-sapidudunk

ngiler

7

Akhir tahun sudah di ujung mata, tinggal beberapa hari lagi udah sampai langkah kaki kita di tahun 2011. Hayoo, buat yang udah bikin resolusi tahun 2010, ada berapa persen yang ngga terwujud?. 
Dari dulu, aku kalo bikin resolusi hampir dapat dipastikan ngga akan terwujud di akhir tahun. Paling banter ya cuma lima puluh persennya doang. Jadi bikin males kalo disuruh buat bikin resolusi lagi.

Eniwei, gara-gara semakin banyak tumpukan buku di rumah.. (yang mana rumahku saat ini masih kecil, sehingga buku-buku itu bener-bener menguasai ruang di rumah), aku jadi memimpikan punya ini...

E-book reader. 
Praktis, ngga makan tempat. Palingan cuma harus beli kartu memori buat nyimpen pdf-pdf e-book, dan ngga perlu ngiler lagi tiap liat buku-buku. Tinggal googling dan donlot e-book yang udah banyak disebar di mana-mana.

Ah,
tapi siapa yang bisa mengalahkan sensasi saat memegang kertas yang nyata-nyata di tanganmu? atau menandingi bau kertas apak dan tua karena buku jadul yang berdebu??.

** 
hiks, tapi tetep pengen ebook readernya,, kabarnya harganya sekitar 2-3 jutaan. yang mau beramal sholeh, sialakan menyumbang untuk saya,, (memelas... ) :p

I am so into you

7

Labels: ,


My (c)hubby had wrote this., then he force me to write the same thing also. Eww. Actually i've wrote something about him, long before we both decide to getting married. Just left, if you objected to read our romance story.


I AM SO INTO YOU.

Maybe its the right answer for my feelings to him. I dont ask to feel this love, or feel this addiction, but maybe if i go further, i’ll go down and too much.like the queen song : too much love will kill u.

Awal kenal dengannya, aku tahu aku bisa mempercayainya. Dan kini pun aku tahu bahwa aku bisa mempercayakan segalanya padanya. Even my life, for him. Kenapa? Apa aku bodoh untuk percaya kepada seseorang yang belum aku kenal terlalu jauh?. Tidak, bukan begitu kawan. Kalau saja kamu sudah bertemu dengannya, aku yakin kamu juga akan sependapat denganku juga. Mungkin dia bukan seorang nabi, karena bahkan ada banyak orang tidak suka padanya. Tapi aku pikir, akan sangat bodoh kalau aku menyia-nyiakan orang ini. Dia teramat berharga, priceless.

Bayangkan saja. Dalam satu bulan, kamu bisa diajak jalan olehnya, kemanapun. Belum termasuk dengan kejutan-kejutan yang diberikan olehnya tiap saat, dan satu hal yang membuatku terikat amat kuat adalah

Read More

Welcome home

3

Aku bertemu mereka lagi. Dengan busana yang sama dan penampilan yang biasa. Senang rasanya ada yang mempersilakan lewat jembatan lagi, meskipun pertemuan kembali setelah 4 hri tanpa alasan itu hanya diawali dengan selembar uang tak seberapa. 

Welcome home, old guy!


tanya

8

Sore dimana semua orang di sekitar Jakarta sepertinya sedang diliputi euforia Philipine-Indonesia di Gelora, aku menemukan bahwa kedua orang tua yang biasa aku temui di jembatan gedung MPR/DPR itu tak ada.
Padahal di tanganku sudah ada sebungkus makanan untuk mereka.

Kemana?

Senyuman hari ini

3

Hei, hei,
Bagaimana hari kalian? Penuh semangat? Ada yang baru dapat rezeki? atau dapat musibah? Semoga semuanya tetep memperkaya diri kita ya :)

Setiap pulang kantor, sekarang sapi lewat jembatan penyeberangan depan gedung MPR/DPR itu untuk menuju kantor suami, biar bisa pulang bareng. Di atas jembatan itu, ada dua orang bapak yang duduk bersila di tanah. mereka berdua hanya beralaskan tikar. Yang satunya sudah berumur 70an mungkin, lengkap dengan rambut yang putih sempurna dan goatee yang menghiasi dagunya. Akseseori wajib kakek tersebut adalah kruk dan sapu lidi yang ia letakkan tak jauh dari duduknya.

Partnernya adalah seorang bapak yang berumur sekitar 50, dengan tubuh (maaf) sedikit terhambat pertumbuhannya, dan goatee juga yang lebat dan hitam menghiasi wajahnya. Kedua orang tersebut selalu mengantarkan senyum kepada siapapun yang lewat, termasuk aku.

Aku jadi sadar, bahwa mungkin aku sekarang adalah orang baru di kehidupan mereka. Aku akan menjadi "tamu" tiap sore mereka selama mungkin 3 tahun ke depan. Senyum mereka berdua yang mungkin malah senyum pertama yang aku (dan orang-orang) dapatkan dalam hari itu. Sikap sopan dan ramah yang mereka tawarkan di akhir hari usai bekerja. Mungkin itu semua yang membuat aku semakin sadar, seharusnya aku banyak bersyukur dan tersenyum dengan apa yang telah aku dapatkan.

***

Eniwei, suamiku finally made his blog alive (again). Nothing new, only couple of post he has made. But i think it is my pleasure to let you know little about him. This is It. Noted that i am his first follower. Ha! Just guess how long he will keep his blog live!

Track of Life

3

Sesuatu akan terasa lebih berharga saat dia sudah ngga ada.


Jika kamu cuma punya waktu lima tahun, setahun, sebulan, seminggu untuk nikmat hidup, apa yang akan kamu lakukan? Tobat, mungkin. Atau melakukan hal gila yang tidak akan kamu sesali meskipun kamu udah ngga ada. Atau bisa saja memperlakukan orang-orang di sekelilingmu yang menyayangimu dengan sebaik-baiknya. 


Manusia memang cenderung malas. Merasa masih punya tipe-ex, dia tidak akan aware terhadap tulisan yang akan dia tulis. Jika terjadi kesalahan, tinggal ambil tipe-ex nya, dan hapus begitu saja. Karena kita sadar, kita masih punya waktu dan kesempatan untuk memperbaikinya. But, if it isn't?

Kamu akan berpikir dua kali sebelum berpikir, sebelum bertindak, sebelum berbicara. Kamu ngga punya kesempatan buat melakukan perbaikan. Sama seperti menyeberang jembatan yang tergantung di atas jurang yang dalam. Kamu tahu kamu cuma harus memperkirakan langkah-langkah terbaik yang bisa kamu lakukan, karena sekali kamu salah, jurang menganga tak menyediakan tangga untuk kembali ke atas.

Kita tahu perjalanan panjang ini ada ujungnya. Hanya saja kita tak mampu melihatnya. Bisa saja tinggal dua langkah lagi. Atau, sepuluh ribu langkah lagi?

Sayangnya, kita tak punya tipe-ex di dalam saku. Jadi, gunakan langkah terbaikmu saja. Happy Life!

Romantise Masa Lalu

5


Yang pernah ke Braga, Bandung, pasti tahu tempat ini. Tempat kamu bisa nyicipin aneka roti khas belanda dengan berbagai toping dan isi yang yummy. Ngga cukup kalau cuma roti doang? pesan eskrim istimewa sebagai desert dan makanlah di tempat kamu bisa duduk dan merasakan sejenak kembali ke berpuluh-puluh tahun silam ketika Belanda masih berjaya di sini.

Sumber Hidangan. Bukan buat ngiklan ya. Waktu aku sama beruang ke sana, kita pesen kue yang kelihatannya paling enak dan eskrim yang paling lengkap toping dan campurannya. Harganya?? bahkan jauh lebih murah daripada beli di Bre*dTalk atau eskrimnya di Ragusa itu. Mungkin emang kualitasnya rada di bawahnya dikit, cuma semua itu ngga bisa ngalahin yang namanya romantisme masa lalu.

Aku sendiri sangat suka dengan romantisme masa lalu. Bagi yang minta dijelaskan arti dari istilah itu, aku sendiri juga ngga ngerti gimana ngejelasinnya. Yang pasti romantisme masa lalu adalah semacam perasaan rindu yang tiba-tiba muncul saat memandang foto-foto tua dan berdebu. Di dalamnya menampilkan beberapa orang pribumi yang bertelanjang kaki sedang mengasuh noni belanda. Backgroundnya adalah sebuah rumah khas Belanda dengan halaman luas. Perasaan rindu dan tiba-tiba melankolis sehingga rasanya ingin mengorbankan apa saja agar bisa berbicara kepada wanita pribumi di foto tersebut.
Bagaimana kehidupan mereka saat itu, bagaimana selera fashion orang jaman itu, bagaimana mereka hidup berdampingan dengan bangsa asing, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Rasanya ingin mengubek-ubek sampai tak tersisa lagi pertanyaan-pertanyaan dan perasaan semacam rindu. Rindu kepada masa lalu dan asal-usul nenek moyang bangsa ini.

Yang menyakitkan adalah, setelah semua romantisme masa lalu itu berakhir, yang tersisa hanyalah satu pertanyaan besar: Quo Vadis?? Mau dibawa kemana Indonesia ini? Ketika melihat wajah jakarta yang bangun sana-bangun sini, tambal sana-tambal sini, apakah semua romantisme masa lalu itu hanya akan dianggap sebagai sebuah dongeng indah buat anak cucu kita, hingga bahkan mereka ngga pernah tahu kalau Indonesianya pernah Indah dan Makmur, orangnya ramah-ramah dan gemah Ripah loh Jinawi?


Patung pancoran jaman dulu

patung pancoran sekarang

Mungkin apa yang dikatakan Soekarno bener. JAS MERAH: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sejarah adalah di mana kita semua berasal. Mengingat sejarah membuat kita lebih menghargai apa yang kita miliki sekarang. 

Jadi, sampai kapan kita mau amnesia sejarah?

***


P.s Maaf untuk semua temen-temen, sampai sekarang bahkan aku belom bales komen dan berkunjung balik. Aku akan menyalahkan penyakit berhuruf M besar itu sebagai alasannya. Entah untuk sampai kapan. Orientasi hidup seseorang memang seringkali berubah-ubah.

Naik dari Halte Dong!

6

Bulan ini aku udah telat dua kali.

Bukan, bukan telat yang "ïtu". Ini cuma telat masukin jempol ke mesin adikuasa yang bisa motong gajimu tiap bulan walaupun cuma telat satu detik. Pagi itu aku nyoba berangkat dari Bintaro ke Pancoran, dengan nebeng suami dan dilanjutkan dengan naik metromini. Well, aku pikir itu sebuah pekerjaan yang mudah karena tinggal goyangin tangan dan metromini bakal ngesot-ngesot berhenti di hadepanmu.

But, i was wrong. Ngga tahu kenapa, metromininya ngga ada yang mau berhenti dengan lambaian tanganku ini. Apa mungkin tingkat ke-dudung-an ku ngaruh? hehehehe. Aku baru tahu, ternyata metromini-metromini itu ngga mau berhenti karena aku ngga naik dari halte.

WOW.
Ironis waktu itu aku pikir, karena dari dulu aku selalu memimpikan Indonesia ini, atau minimal Jakarta ini (yang katanya lebih kejam dari ibu tiri) akan menjadi sedikit lebih baik dengan cara mengubah perilaku orang-orangnya. Pemalas, Mental peminta-minta, Ngga tepat Waktu, Seenaknya sendiri, Ngerasa dirinya paling bener, Paling seneng ngelanggar aturan, etc. etc. 

Salah satunya, begini. Aku pernah jengkel karena banyak bus-bus, angkot-angkot yang suka berhenti mendadak di sembarang tempat buat naikin/nurunin penumpang. Perjalananku dengan siberuang a.k.a my Chubby itu terganggu dong ya. Nah, wajar aja kalau aku jadi ngobrolin sama beruang, betapa kelakuan orang di jalan seharusnya ngga kaya gitu.

Misalnya tentang MRT yang ngga jadi-jadi direalisasikan, atau mimpi tentang subway yang ngga tahu terkubur di mana. Bahkan busway yang harusnya banyak berkontribusi mengurai kemacetan pun udah ngga ngaruh lagi sekarang. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mengurai kemacetan adalah dengan meningkatkan pelayanan angkutan umum. Penggunanya juga perlu memperbaiki perilaku juga. Misalnya dengan tidak naik di sembarang tempat, tapi di halte yang telah di sediakan.

Dan ternyata aku melanggar sendiri ucapanku. Ah, manusia, emang bisanya cuma omong doang. Pas udah waktu mepet dan harus jalan jauh untuk mencapai halte terdekat demi sang metromini mendekat, akhirnya aku telat nempelin jempol di mesin mistik itu. 

Gaji bulan ini dipotong berapa ya... -__-

Never Ending Asia

8


Aku cinta jogja, seperti aku mencintai hujan yang turun sehabis siang yang terik
Aku cinta Jogja, seperti aku menyayangi kakak laki-laki yang ngga pernah kumiliki
Aku menyukai Jogja, dengan segala kekurangannya. Dengan berjuta kenangan yang ada di dalamnya. Di antara gemerlap lampu lesehan, di sela-sela canda tawa di angkringan, atau cuma sekedar salam sapa di pagi hari oleh tukang sayur di pasar.

Jangan, jangan lukai Jogja rakyatnya yang welas asih, yang menawarkan "rumah"ketika banyak oang kehilangan makna, Jogja yang akan tetap memberikan senyum bahkan ketika berselimut putih abu merapi. 
Memang bukan Jogja-KU, tapi banyak orang jatuh cinta padanya, bahkan sejak langkah pertama menginjakkan kaki di sana. Bukan, Jogja bukanlah duri dalam demokrasi, dia hanya sekedar anomali yang sangat pantas untuk dimaklumi. Dengan segenap perjuangan rakyat dan Sultannya dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah air, yang saat ini digegap gempitai oleh orang-orang terHORMAT di senayan sana, yang saat ini berkuasa dan sedang amnesia.


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
Mari sama-sama berdoa, untuk Jogja kita semua, simbol budaya, simbol bahwa kita pernah menjadi orang yang berbudaya luhur dan timur. Agar orang-orang terhormat di sana, segera sembuh dari amnesia sejarahnya. bahwa Jogja adalah bagian dari tanah air kita tercinta, karena tanpanya, bukan Indonesia lagi namanya :(


*p.s Untuk semua kenangan masa lalu, kenyataan masa kini, dan harapan masa depan; di kota indah itu

r.a.i.n

4

"Sederes-deresnya hujan, pasti akan berhenti juga."

-sapidudunk

we're proud to be BPPKers

3

Labels:


hanya karena ada pengumuman penempatan aja jadinya merasa harus mengabadikan moment ini ke dalam bentuk tulisan. 

Semua manusia cuma bisa merencanakan tapi hanya Tuhan lah yang menentukan. Siapa yang bisa tahu besok kita udah ada dimana?. Sepertinya cuma sejam yang lalu aku dan temen-temen masih ketawa-ketawa, secara kurang ajar mengambil alih microphone untuk kemudian bernyanyi-nyanyi gila, bahkan masih sempat ngata-ngatain temennya sendiri. Tapi hanya dengan sebuah amplop coklat sakti, mampu mengubah suasana sejam kemudian menjadi sebuah moment haru biru.

Penempatan.
Siapa pun ngga bisa menghindar. Mau berdoa sederes apapun, isi dari amplop coklat itu ngga akan berubah secoret pun. Sebaris nama, sebuah kota. Tertera di dalamnya. Apapun itu, dimanapun itu, di sanalah kita bakal menghabiskan 4 tahun ke depan. 

Kawan,
Kita ngga pernah tahu mengapa kita penempatan di BPPK. Kita juga ngga pernah tahu mengapa penempatan Balikpapan, Manado, Pontianak, Pekanbaru, Denpasar, Malang, Jogja, Jakarta, Makassar, Palembang, Medan, dan Cimahi. Kita ngga pernah tahu akan berapa lama kita di tempat itu, ngga pernah tahu bakal ketemu siapa di sana, bakal seperti apa di sana. Yang kita tahu pasti adalah...

kita pernah bersekolah bersama-sama di kampus biru yang di sana pernah ada kambing berkeliaran.
kita pernah lulus dan wisuda bersama-sama
kita pernah kaget dan -mungkin- ngga nyangka sama-sama bisa ketemu di instansi ini
kita pernah belepotan lumpur, tidur di kuburan, tidur di lantai, merayap di aspal, ngecengin kopassus cakep, sama-sama

Dan, ketika kita semua udah menjalankan tugas di tempat masing-masing, kita tahu kita masih inget semua lagu-lagu karaoke itu, masih inget olok-olokan orang-orang tertentu, bahkan kita masih inget salah satu lagu ini..

Tinggalkan ayah tinggalkan ibu,,
Izinkan kami pergi berjuang,,

Yah.. mungkin terlalu muluk kalau berharap suatu saat kita bisa kumpul lagi seperti sekarang, dan terlalu klise kalau aku bilang kita harus sabar dan tabah menghadapi penempatan ini. But, as you knew, something doesnt kill us, just make us stronger.

SELAMAT BERJUANG KAWAN-KAWAN!

Living

2


"Hidup dan Menjalani Hidup adalah dua hal yang berbeda  "

-sapidudunk-

Kenapa sih Na?

10

Labels:

Hell, 
Udah dari sejak jaman kapan aku udah ngga pernah lagi bisa nulis di blog. Mungkin karena kemaren sempet ninggalin satu bulan, jadi blog sepertinya sudah mulai menghilang dari peredaran darahku. Dan, inspirasi-inspirasi pun satu per satu mulai menghilang, bahkan update twitter pun sekarang udah susah. "Mau nulis apa ya aku?"


Well, 
Aku ngga menyalahkan kehidupan rumah tangga sebagai salah satu penyebab buntunya kegiatan nge blog nya saya ini. Emang sih kalau di bilang repot ya repot. Tapi seperti yang sudah banyak ditanyakan oleh teman-teman (dengan heboh), "Nikah enak ngga sih na??", dan of course aku jawab dengan yakin, "ENAK lah..".


Enaknya apa na?
Banyak. Konsep yang ada di kepalaku adalah, bukannya menyepelekan arti pernikahan ya, tapi bagiku pernikahan tu ya pacaran tapi tinggal satu rumah. Plus, masak, ngurusin suami, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Enak loh, siberuang ngga perlu repot-repot nganter aku ke kostanku dan balik ke kost nya. Kita juga ngga bingung kalau lagi keluar kota dan nginep satu kamar di hotel, mau pelukan di jalan juga ngga canggung dan malu lagi ("emang kenapa, dia suami gue.." hehehhe).. dan banyak hal yang menyenangkan lainnya.


Walaupun,
Aku termasuk orang yang susah bangun pagi, dan harus merelakan diri untuk bangun lebih pagi dari biasanya buat nyiapin sarapan. Kalau malem juga harus tidur lebih malem karena harus nyiapin tempat tidur, masak buat besok pagi, ngebersihin rumah, dll. Tapi... aku sangat seneng melakukannya... Ngga tahu kenapa semua rasa capek itu terbayar saat siberuang ku itu tersenyum dan bilang, "Makasih ya Dek..".


Well,
aku bukan lagi bikin pengen kalian-kalian ya.. hehehhe.. aku cuma lagi share aja kenapa aku udah jarang nge blog, menulis, atau update status mulu..Wish me back to my full-of-inspiration-soul lagi ya :)


---
Happy Wednesday..

My Wedding

13

Labels: ,

Alhamdulillah, 16 Oktober kemaren statusku udah bukan single lagii,, (maaf yah buat para cowo-cowo yang patah hati... hehehhehe).

Terima kasih untuk semua temen yang udah mendukung, udah datang, dan atas semua doanya. Sengaja emang aku ngga pernah nyinggung-nyinggung tentang nikahanku di blog, padahal rencananya emang udah ada sejak setahun yang lalu. Yang penting, semua sudah terlaksana dengan lancar dan sekarang aku udah sah jadi istri siberuang. hhihihi.. senangnya..

Banyak yang tanya mengapa aku bisa yakin untuk nikah muda. Well, ngga ada alesan khusus untuk itu. Hanya karena muncul aja pertanyaan, "Apa lagi sih yang ditunggu?". Ketika udah lulus kuliah dan cuma tinggal nunggu proses buat kerja, dan siberuang juga udah punya penghasilan, trus kita berdua juga cocok, apa lagi yang ditunggu? Kalau harus nyari yang terbaik ngga akan pernah selesai, right? Yang penting adalah menjadikan apa yang kita punya sebagai yang terbaik buat kita.

----

live happily ever after :)

My Lucky Clover

14

Labels:


Setiap orang membawa keberuntungannya sendiri-sendiri. Ya, aku percaya, Itu juga yang jadi alasan kenapa orang-orang Indonesia memilih untuk memiliki banyak anak dalam satu keluarga. Setiap orang punya rezekinya masing-masing.

Tapi pernah suatu kali aku tanya sama siberuang, "Seumur hidup kamu, pernah ngga menangin undian apa gitu, se-ngga penting-pentingnya undian itu?". Dan secara mengejutkan, jawabannya sama denganku, Tidak pernah. Entah ya, setiap ada undian, seberapa banyak pun aku ngirim kuponnya, namaku ngga pernah tercantum dalam daftar pemenang. Kalaupun memang pernah, itu hanya semacam gerak jalan massal satu kampung yang hadiahnya juga beratus-ratus. 

Bukannya kurang bersyukur sih. Kalau disebutin satu-satu, udah banyak kenikmatan dari Tuhan yang aku miliki. Mulai dari anggota badan yang lengkap dan sehat, keluarga yang menyenangkan, calon suami yang seekor beruang *tabok*, bahkan kenikmatan bernafas itu bener-bener suatu hal istimewa yang sangat patut disyukuri. Tapi kok bad luck ya? Kadang suka iri aja kalau denger ada temen baru aja menangin BB lah, menangin mobil lah, rasanya kok dunia macam kamu-jadi-pemenang-dapat-hadiah-gratis itu sangat jauh dari anggapan "nyata" buatku.

Tapi untungnya, yah ternyata aku ngga sendirian. Justru karena bad luck ku mungkin ya, jadi aku ketemu sama beruang yang notabene juga punya bad luck juga. hahaha, teori ngawur sih. Yang pasti, kalaupun nanti-nanti ada undian apa, kata menyerah adalah kata terakhir yang mungkin ada di kamus ku dan beruang. Tapi kata menang mungkin akan segera terlupakan secepat kami memasukkan nomor undian ke kotak. Kalaupun memang nanti ternyata menang, alhamdulillah. Tapi kalau engga, sudah lupa tuh? :)


*) hell yeah, barusan aja googling, dan kayanya aku ketemu jawaban kenapa keberuntungan seseorang bisa sedemikian kecil. Baca aja artikelnya di sini dan di sini. Apa kalian juga termasuk?

Kakek

7

Labels:


“Kakek, aku anter aja ya”, ucap Cucu pada Kakek saat melihat Kakek sedang bersiap-siap untuk rutinitas hari Sabtunya. Kakek menggeleng pelan. Rahangnya mengeras. Kakek meraih peci hitamnya dan kruknya.

Cucu hanya geleng-geleng kepala, sambil melempar pandangan bertanya pada Ibu. Yang dipandangi hanya mengambil napas panjang, dan memilih untuk tidak berkomentar dan masuk ke kamar. Merasa tidak mendapat jawaban, Cucu hanya mendesah dan meneruskan kesibukannya di depan komputer.

Usia Kakek sudah hampir 90 tahun. Rambutnya sudah putih sempurna, tipis dan botak di bagian tertentu. Kulitnya keriput karena usia, punggungnya juga sudah bungkuk. Mantan pejuang ’45 ini harus menggunakan kruk untuk berjalan karena kaki sebelah kirinya tak ada di tempat seharusnya. Kakek kehilangan kaki kirinya ketika pertempuran di Yogyakarta pada saat Agresi Militer Belanda II. Menjadi seorang veteran perang tak membuat Kakek bahagia dan tentram di sisa-sisa hari tuanya. Rumahnya tetap saja sepetak kecil, berdinding setengah permanen. Satu-satunya “penghargaan” yang dimilikinya adalah sebuah piagam yang kini menguning dan usang di dinding ruang tamu.

Sebelum berangkat, Kakek memandang potret hitam putih dirinya dan Nenek yang ia simpan di saku jas coklatnya. Ia pandang dengan mata berkaca-kaca, untuk kemudian ia masukkan lagi ke tempat semula. Setelah meraih buku yang ia simpan baik-baik di almari dan memasukkannya ke kantong plastik bersama Alqu’an yang sebelumnya telah ada di dalamnya, Kakek berangkat.

“Pagi kek!. Sudah mau berangkat?”, sapa Tetangga melihat Kakek keluar rumah.

“Iya. Monggo.

Nggeh, ngatos-atos mbah”.

Kakek berjalan pelan dengan kruknya, menyusuri jalanan kotanya yang ramai, menyusuri kali, menyeberang lewat jembatan, melewati hiruk pikuk pasar, menyapa beberapa orang yang telah ia kenal, dan sesekali menepuk-nepuk saku jas coklat sebelah kirinya. Kegiatan favorit Kakek sepanjang perjalanan adalah menerawang jauh menembus waktu, di mana kota ini masih seperti ingatannya yang dulu. Selayaknya foto hitam putih yang telah menguning dan kusam, Kakek melihat kotanya yang dulu sepi kini telah ramai. Ia membayangkan manusia-manusia ini adalah cucu-cucu dari teman-teman seperjuangannya. Beranak pinak, membentuk keluarga, membentuk komunitas, dan akhirnya menjadikan kota ini telah banyak berubah.

Langkah kaki Kakek berhenti pada segundukan tanah bernisan, di kompleks pemakaman yang tak terlalu luas. Kakek duduk di selembar kertas koran dengan susah payah, meletakkan kruknya, dan terdiam sejenak memandang kuburan di depannya.

Sri Lestari, wafat 12-08-1997”. Begitu yang tertulis di nisan. Di tempat inilah Nenek dikuburkan lebih dari 10 tahun yang lalu. Nenek telah mendampingi hidup Kakek selama lebih dari 50 tahun. Kakek mengusap pelan air yang keluar dari matanya, kemudian ia mengambil alqur’an dan mulai membacakan doa untuk Nenek. Khusyuk dan khidmat Kakek membaca doa-doa untuk Nenek. Bagi Kakek, doa-doa ini khusus ia panjatkan sebagai tanda cintanya pada Nenek, pada perempuan yang ia cintai pada pertemuan pertama mereka, pada wanita yang telah mendampinginya selama sisa hidupnya. Kakek berharap, dengan doa-doa yang ia panjatkan ini, Kakek dapat bersama-sama Nenek kembali nanti di tempat yang kekal dan bahagia.

Selesai membacakan doa, Kakek mengambil sebuah buku usang yang berwarna kekuningan. Buku favorit Nenek. Sebuah cerita silat jaman dahulu, terbitan tahun 1960. Ejaannya masih lawas, kertasnya juga sudah lapuk karena seringnya dibaca dan karena faktor usia. Kakek membuka halaman tertentu yang terlipat, dan meneruskan bacaannya yang terhenti Sabtu lalu. Perlahan, Kakek mulai mendongengi Nenek.

***

“Kek, makan dulu kek”, Cucu mengingatkan Kakek yang sedang duduk di samping jendela, menerawang ke luar. Kakek tak menjawab.

“Kek, makan dulu. Mumpung masih hangat. Nanti Kakek sakit”, lanjut Cucu. Kakek menoleh pelan, kedua alisnya bertemu, mukanya masam. “Nanti!”, jawab Kakek agak keras. Cucu beringsut perlahan dan mengalah.
 
Kakek selalu menghabiskan sore berhujannya hanya dengan duduk di samping jendela, dengan mata menerawang ke halaman, ke pelataran yang basah oleh hujan, ke pohon-pohon yang basah kuyup, ke binatang-binatang air yang berpesta, dan ke kejauhan seakan di sana ada seseorang yang menunggunya. Hujan adalah mesin waktu baginya, suasana yang dingin dan biru ini membantu Kakek untuk melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Saat Nenek masih ada, istri tercintanya yang paling setia. Nenek akan membuatkannya secangkir kopi panas jika hujan turun. Kakek dan Nenek kemudian akan bercengkerama di ruang tamu, membicarakan apa saja sambil mendengarkan nyanyian hujan.

Nenek akan mulai memijatnya, mendengarkan keluh kesahnya, dan menyelimutinya jika ia tertidur. Kakek juga teringat, Nenek akan menungguinya sampai malam larut jika Kakek tak kunjung pulang. Tanpa kantuk, tanpa keluh. Kemunculan Kakek di pagi buta hanya disambut dengan senyum dan secangkir teh hangat. Cinta Nenek yang tak bersyarat, yang tulus, yang setia itulah yang membuat Kakek sangat rindu padanya.
 
***

Sabtu yang kesekian, Kakek meraih kruknya dan bersiap seperti biasa. Cucu sudah berusaha keras untuk mengantar Kakek ke kuburan, namun tetap saja Kakek dengan keras kepala mengatakan tidak. Momen berjalan di sepanjang jalan bagi Kakek adalah momen berduanya dengan Nenek, tak ada seorangpun yang mengganggunya.

“Kakek, biar Kakek mboten kehujanan. Kan kalau saya antar, Kakek cepat sampai. Sudah mendung sekali, Kek”, bujuk Cucu. Cuaca memang sedang mendung di luar. Awan gelap sudah menunggu, tinggal satu sentuhan saja mungkin hujan akan turun. Akan tetapi Kakek tetap menggeleng. Ia melangkah keluar dan berpesan, “Mengko wae, kamu rapikan rumah. Mau ada tamu”.

Kakek menyusuri jalanan yang sudah ratusan kali ia lewati, ia sudah hapal kerikil-kerikilnya, ia sangat hapal orang-orang yang akan ia temui sepanjang jalan. Ia melewati jembatan, melihat sebentar sungai di bawahnya, kembali meneruskan perjalanan dengan kruknya, dengan satu kakinya. Kakek memandang di kejauhan, mengira-ngira berapa lama lagi ia harus bersabar menunggu seperti ini, berapa lama lagi ia bisa berkumpul lagi dengan orang yang ia sayangi. Orang yang kepadanya telah ia bagi hidupnya selama setengah abad. Kakek hanya menduga-duga, dan di tengah lamunannya itu Kakek melihatnya. Kakek melihat perempuan yang begitu ia rindukan, dalam balutan kebaya putih dan kerudung putih. Kakek melihat perempuan yang sangat ia nantikan di seberang sana. Kakek percaya sepenuhnya, dia adalah Nenek. Hanya saja wajahnya menjadi jauh lebih muda, badannya tidak membungkuk, kulitnya tak keriput. Ia adalah wanita yang sama yang telah hidup bersamanya.

Setengah berlari, Kakek menghampirinya. Berusaha memanggil namanya, agar perempuan itu menunggunya, agar perempuan itu tak memalingkan wajahnya dari Kakek. Perasaan euforia menyelimuti Kakek, belum pernah ia sebahagia ini. Kakinya terseok-seok mengikuti tubuhnya yang ingin segera sampai di tujuan. Saat itulah, di tengah jalan, kruknya terlepas dari pegangan.

Keseimbangan Kakek goyah. Ia jatuh tertelungkup. Kruknya terjatuh agak jauh disebelah kirinya. Perempuan itu masih melihatnya, Kakek tersenyum padanya. Kakek tak merasakan sakit tatkala mobil yang gagal mengerem tepat saat dirinya jatuh tersungkur itu melintas di atas tubuhnya. Kakek hanya tersenyum.

Beberapa saat kemudian hujan turun. Perempuan berjilbab dan berkebaya putih itu sudah tak ada di sana. Jasad Kakek ditemukan sedang menggenggam potret hitam putih dirinya dan Istri tercintanya.


Keterangan:
Monggo             = silakan
Nggeh, ngatos-atos mbah    = Ya, hati-hati kek
Mboten                = tidak
Mengko wae        = nanti saja

*) pic from here


******
Mengapa sapidudunk tiba-tiba membuat cerpen?
lagi pengen aja. Seminggu ngga ada kerjaan, jadinya iseng-iseng bikin.

Tujuannya?
buat mengetahui aja, apakah aku ada bakat nulis cerpen atau engga

Kalau cerpennya jelek?
Ngga masalah, thats why i posted it on my own blog. jadi kemungkinan buat dimuat 100%

Kalau pembaca pada mencaci-maki?
Itu salah satu tujuan yang lain. Aku malah bersyukur kalau ada yang ngata-ngatain, asal ngata-ngatainnya jujur. Biar ada motivasi buat aku untuk bikin yang lebih baik lagi.

Ada pesan dan kesan?
Yah, emang buku kenangan ya pake kesan dan pesan -__-

(obrolan ngga jelas) :)

Bunga di Tepi Danau

10

Labels:


Kamu meninggalkan bekas yang dalam padaku. Memalukanku di depan umum. Tapi aku tahu dari sorot matamu, ada sesuatu yang berbeda yang kamu rasakan padaku. Mungkin itu alasanmu menjadi labil dan bingung dengan apa yang kamu lakukan. Mungkin saat ini kamu sedang mengutuk dirimu habis-habisan, mengapa sebodoh ini melakukannya padaku. Mungkin saat ini kamu ingin pergi saja, tapi terlalu malu untuk menghentikannya secara tiba-tiba. Kamu tidak ingin aku tahu tentang perasaanmu. Tapi aku bisa membaca lewat sorot matamu. Kamu mulai sayang aku. Ya, aku tahu. 

Akhirnya kamu pergi. Aku tahu kamu akan pergi, mungkin kamu merasa bersalah atas perbuatanmu padaku sehingga memutuskan bahwa mungkin aku akan membencimu. Kamu benci risiko, itu aku tahu sejak awal. Tapi kamu sudah salah langkah. Tatapan kita yang terkumci saat itu sudah mengungkapkan segalanya. Bahwa kamu menyayangi aku, dan aku pasrah dipermalukan olehmu. Tapi kamu memilih untuk pergi. Aku tak bisa menyalahkanmu, tentu saja. Tak pernah ada kata-kata untuk mengikat diri kita pada satu  titik. Tak ada perjanjian bahwa kamu akan selalu ada disini. Bahkan tak ada pernyataan apa-apa darimu semenjak kejadian itu. 

Aku cuma tahu, setelah kamu pergi aku banyak menyendiri. Di danau, dengan rakit sederhana, aku menelusuri tiap tepi, memandang tiap detail suguhan alam yang hijau di danau ini. Aku masih memikirkanmu. Mungkin kamu juga memikirkan aku, tapi aku tidak yakin. Mungkin kamu sampai sekarang masih mengutuki kebodohanmu, satu-satunya jalan penghubung antra kita berdua sudah kau tutup dengan memalukan. Asal kamu tahu, aku memaafkanmu.  Kusampaikan salam-salamku untukmu melalui riak air yang bertemu dengan rakit, melalui desau-desau angin yang mencium lembut ujung daun-daunan. Aku memikirkanmu.

“Tak ada hal yang berubah jika hanya dilamunkan saja”, itu kalimat terpanjang pertama yang dia sampaikan padaku. Mungkin belum pernah ada pengunjung yang lebih setia daripadaku. Setiap hari mengunjungi danau, dan berkeliling menggunakan rakitnya. Aku pandang dia lekat-lekat untuk pertama kali, merasa bersalah karena selama ini lebih menganggap bahwa pendayung rakit ini tidak ada. Kemudian tersenyum, karena dia tak berusaha mengalihkan pandangan dari tatapanku. Bahkan seolah menjawab tantangan, pandangannya tetap lurus ke mataku, dengan lebih tajam. Aku kalah, aku tersenyum dan menoleh. 

“Hanya saja, ada sesuatu yang hanya bisa hidup dalam lamunan”, kataku beberapa saat kemudian menjawab pernyataan si Tukang Dayung. Aku ingin mendengar jawabannya, namun ia tak mengatakan apa-apa. Kesunyian yang bagiku aneh, menyelimuti kami berdua. Seolah si Tukang Dayung adalah patung yang sejenak tadi hidup, untuk kemudian beberapa saat kemudian mematung lagi. Aku toleh dia, aku kembali pandang matanya, namun tak ada apa-apa di sana. Hanya pantulan warna air dan warna hijau yang tergambar di sana. Aku pun melanjutkan lamunanku tentangmu. Kembali tentangmu.

“Bunga yang ada di ujung danau itu adalah bunga paling kesepian di dunia”, kata si Tukang Dayung suatu pagi, beberapa hari setelah kediaman tak berujungnya. Mau tak mau aku langsung menoleh padanya. Mengharap ia berkata lebih jauh. Matanya lurus ke arah ujung danau yang bertepian dengan bukit yang menjulang. Aku mengikuti tatapannya dan tak menemukan apapun. Kami terdiam cukup lama hingga akhirnya sesampai di ujung danau, aku melihatnya. Sekuntum bunga warna putih, kecil sekali. Bunga itu sendirian, tak ada rumpun-rumpun bunga lainnya. Mungkin jika ada orang lewat, bunga itu akan terinjak karena ke-tidakterlihatan-nya dan karena ketidamencolokannya. Aku tahu ini bunga yang ia maksud. 

“Ia hanya mekar selama 2 hari. Untuk kemudian layu dan gugur. Perlu waktu 6 bulan baginya untuk memunculkan kuncup baru”, jawab si Tukang Dayung pada pertanyaan bisuku. Enam bulan, adalah waktu yang sama sejak kamu meninggalkanku. Dan waktu selama itu dilalui rumpun bunga ini untuk memunculkan kuncup baru.

“Mengapa?” tanyaku. Ia tak menjawab, hanya diam dan mulai membawa rakitnya menjauh. Aku menghalaunya, aku masih ingin melihat bunga itu. “Besok masih ada satu hari lagi, kalau kamu ingin lihat”. Aku mengalah, dan hari itu adalah hari terpendekku di danau semenjak 6 bulan lamanya aku menyendiri di sini.
 
Si Tukang Dayung tak merasa heran aku datang lebih pagi dari biasanya hari itu. Ia hanya tersenyum, senyum pertamanya, dan mulai membawa rakitnya menjauh dari tepi danau. “Di pagi hari, bunga itu akan kelihatan lebih indah”, ujarnya pelan, diiringi suara kecipak air saat bertemu dengan kayuhan dayungnya. Aku menerawang. Semalaman aku masih memikirkan Bunga Sepi itu. Ini kali pertama aku datang tanpa motivasi tentang dirimu, aku datang karena ingin melihat Bunga Sepi yang hanya mekar selama 2 hari. Aku datang pagi ini karena hari ini hari terakhir Bunga Sepi memamerkan kesederhanaan mahkotanya pada danau, pada air, dan pada seorang gadis asing yang baru saja mengenalnya.
 
“Ia akan mekar lebih indah di hari terakhirnya. Diwaktu subuh, bau wangi akan menyebar, lalu hilang perlahan-lahan menjelang petang”. Kami sudah sampai di ujung danau, tempat bunga itu berada. Sudah melewati waktu subuh, bau wangi bunga ini sudah tak begitu kentara. Tapi aku melihat mahkotanya lebih mekar dari hari kemarin dan ada sedikit sentuhan warna merah jambu di pusat mahkotanya. Warna indah itu mengelilingi putik yang sendirian tanpa adanya benang sari. Aku baru saja akan bertanya ketika si Tukang Dayung berkata, ”Karena kesendiriannya, yang membuat ia begitu istimewa.”

Ya, mengapa bunga itu sendiri? Mengapa dia tak mencoba untuk membiakkan dirinya, hingga ia punya banyak teman? Kamu tahu alasannya? Apa mungkin ia seperti aku, yang menunggumu, tak berujung, tak bertepi, 6 bulan lamanya. Selama dua hari saja aku akan menampakkan kecantikanku, keistimewaanku, untuk menyambutmu datang. Walaupun aku tahu, akhirnya memang kamu tak datang. Bukan merupakansebuah bentuk kekecewaan jika aku kemudian layu dan gugur. Bukan merupakan bentuk putus asa juga jika aku berdiam selama 6 bulan lamanya. Itu hanya aku, mencoba menyimpan semua gambaran-gambaran indah yang masih ada di ingatan. Ketika aku memandang matamu, ketika pandangan kita terkunci. Itu hanya aku, yang tak ingin ingatan itu hilang. 

Aku tersadar ketika rakit mulai menjauh. Aku protes pada si Tukang Dayung. Mengapa, padahal hari belum juga beranjak senja. Aku hanya ingin melihat hari terkahir bunga itu.

“Tak ada gunanya melihat seseorang yang beranjak rapuh dan menyerah jatuh. Lebih berguna melihat bagaimana orang itu terdiam, menunggu dalam harapan selama enam bulan berikutnya”, kata si Tukang Dayung menjawab protesku. Dayungannya berhenti. Kami berdua diam di tengah danau, dengan angin menerbangkan ujung-ujung rambutku. Dia berjalan mendekatiku, menatapku seperti saat kali pertama ia menatapku dulu. Tangannya menelusuri garis wajahku, berhenti di daguku dan mengangkatnya sedikit. 

“Tak ada yang lebih menyedihkan sekaligus membahagiakan melihat seseorang yang menyimpan harapan untuk menunggu, selama apapun. Walaupun harapan itu bukan untukku, walaupun aku tahu orang itu tidak menungguku. Aku cukup bahagia hanya menjadi bayangan. Hanya menjadi angin. Hanya menjadi tanah. Hanya menjadi air danau. Atau hanya menjadi si Tukang Dayung, yang datang tiap hari untuk menjengukmu”.

Ia berlutut, hingga tinggi badan kami sejajar. Aku membeku oleh tatapannya. Aku tak berusaha menepis tangannya yang masih memegang daguku. Dia mendekatkan bibirnya, mencondongkan badannya, dan menarik wajahku. Dikecupnya pelan keningku, hangat dan lembut. Aku terpejam, hingga tak sadar ia sudah kembali ke tempatnya semula, mengayuh  dayungnya kembali menuju tepi danau.

***

Aku tak pernah kembali lagi ke danau itu. Aku tak pernah menyempatkan diri untuk sekedar berjalan di tepinya, atau berusaha melihat di kejauhan. Aku pergi sehari setelah Bunga Sepi itu gugur. Aku menghapus semua ingatan tentang danau, tentang Bunga Sepi, dan tentang kamu. Kamu sudah seperti album foto kusam yang tersimpan di almari memoriku yang paling dalam. Aku tahu kamu sudah hidup menjadi kenangan dan menjadi khayalan, karena kamu tak pernah ada. Satu-satunya janji yang aku ingat yang aku ucap pada diriku sendiri, enam bulan lagi aku akan mendatangi pemuda itu. Si Tukang Dayung. 

Dia mungkin hadir bersama desau angin dan bau khas danau yang sepi dan hijau itu. Mungkin ia akan menyambutku tanpa berkata apa-apa, ia mungkin hanya akan membawaku menyusuri tepi  dan berujung pada Bunga Sepi. Ia mungkin hanya akan mengajakku melihat mekarnya Bunga Sepi yang hanya dua hari. Namun ia akan sadar, bunga itu juga mekar di mataku saat dia memandangnya. Menyelami kedalamannya. Dan ia akan sadar bahwa aku sudah tidak menunggu siapa-siapa. Dialah yang menungguku.

With love
23 September 2010.
07.00-08.34
Magelang
*) pic from here and here

Maybe today is another bad day for me

6

Labels:


Bisa dibilang blog sudah menghilang dari duniaku selama 3 minggu terakhir. Alasannya tentu aja, lebaran. Dan, alasan lain adalah sibuk ngurus ini itu. Dan yang paling penting adalah, aku lagi PMS.

1. Mau minta maaf lahir batin dulu sama semua sobat blogger. Jujur-jujuran aja nih, aku sering jahat karena ngga bales komentar, dan jarang kunjungan balik ke temen-temen. Kadang juga aku suka milih-milih siapa yang aku follow siapa yang engga. Kind of that lah. Intinya aku udah banyak banget salah, dan wajib buat minta maaf buat semua temen-temen blogger.

2. As you know, aku melalui ujian komprehensif dan udah minta-minta doa segala, namun nyatanya aku ngga lulus dan harus ngulang. Untunglah di ujian kedua aku lulus. Shock terapy banget dah waktu itu, meskipun ngga sempet nangis segala. Aku udah tahu sih kalau aku ada kemungkinan ngga lulus karena aku ngga bener2 serius belajarnya (baca: ngegampangin). Tapi ngga tahu kalau rasanya bakal nyesek juga ya.

3. Aku pulang ke kampung halamanku yang dingin, dimana aku bisa bangun sampai siang dan mandi sekali sehari (dingin banget airnya, sumpah). Hujan terus tiap hari, dan ngga ada sumthing worth buat dikerjakan karena hawa santai dan males-males yang terus mengudara di kota kecilku ini. 

4. Cuma bawa 3 buku bacaan ke rumah dan sangat menyesal melakukannya. Untung nemuin toko buku bekas (which is sangat jarang ada di kotaku ini) dan membeli 3 buku. Dan finally, sekarang aku udah kehabisan bahan bacaan, bikin mati gaya bener dah. 

5. Masih ada sangkut pautnya yang nomor 4, karena duit lagi mepet kalo harus beli buku baru, satu-satunya pilihan adalah pergi ke perpus kota yang emang udah jadi langgananku dari masih jaman SMP. Nah, kali ini aku bakal cerita rada panjang.
Jadi, karena udah 3 tahun meninggalkan kota ini, kartu anggota perpusku otomatis udah kadaluwarsa. Waktu aku di jakarta, kartunya dipinjem bokap, then diperpanjang. Ngga tahu gimana ceritanya.. tau-tau kartuku udah ilang aja. Aku baru tahu ya kemaren itu. Katanya petugas perpusnya sampe dateng ke rumah buat nagih buku yang ngga dibalikin plus denda-dendanya. Kata nyokap sih buku yang dipinjem dulu udah dibalikin, dan kartunya lantas hilang. Aku berasumsi kalau ada orang yang manfaatin kartuku buat minjem dan kemudian ngga balikin bukunya. UGH. 

Akhirnya dikasih uang secukupnya karena jujur aja nyokap bokap ngga sanggup bayar denda selama 3 tahun plus biaya buku yang hilang itu. Nah, tadi kemudian aku ke perpus itu, ceritanya buat bikin kartu baru atas namaku. And you know what, aku sekarang masuk daftar BLACKLIST dan ngga boleh bikin kartu keanggotaan lagi di perpus itu.

Aku lagi keadaan PMS, tahu bahwa stok bacaanku udah abis dan aku bakalan mati gaya di rumah selama beberapa minggu, dan satu-satunya yang kuanggap bisa kumintain tolong (yaitu sang perpus) malah nge blaclist aku gara-gara sesuatu yang bukan salahku. 

Tahu kan rasanya?? udah kaya di ubun-ubun dah betenya. Mana siberuang cerewet soal ini itu lah. Huft. Berlarilah aku ke warnet terdekat, guna menyalurkan semua kebetean ini. Dan, dengan ini, resmilah dunia blog masuk lagi di kehidupanku. Welcome, sapidudunk!!

what are you dreaming for?

19

Labels: ,


Selamat malam dunia.

Kenyang juga nih habis makan di sabang (yang cukup menguras duit juga). Eh pulang pulang langsung dapet PR dari cherryblossom.

"Jika kamu dapat mengendalikan mimpimu, apa mimpi yang ingin kamu wujudkan untuk masa depanmu?"

Pertanyaan ini mengingatkan aku pada tugas Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian ketika aku harus membuat perencanaan masa depanku sampai 50 tahun mendatang, lengkap dengan visi, misi, dan motto hidup. Kalau mau diurutin, pasti daftar keinginan untuk masa depan bakal panjaaaaaang banget kaya rel kereta api. Inginnya membuat masa depan yang perfect, sempurna, yang indah-indah dan kalau bisa mewah meriah sekalian kan. 

Tapi apa iya, masa depan yang sempurna adalah masa depan yang semua keinginanmu sudah tercapai? Aku ingin menaikkan haji orang tuaku, aku juga ingin merasakan kuliah S2 di Inggris, aku juga ingin punya sebuah rumah mungil yang asri yang ketika sore hari aku bisa membaca buku di gazebo taman sambil menemani anak-anakku bermain atau belajar. Tapi apa iya semuanya bakal seindah itu?

Sebuah prinsip umum di dunia manusia adalah, ketika suatu kebutuhan terpenuhi, manusia tidak akan pernah puas berhenti di satu titik, karena ia akan terus mencari dan mencari hal-hal baru lagi untuk dikejar dan dipenuhi. Rasa syukurlah yang dapat mengerem ketidakpuasan manusia itu. Lalu dimana letaknya mimpi?

Mimpi ada supaya kita terus hidup. Supaya kita dapat menikmati indahnya hidup dengan mengejar mimpi-mimpi itu. Hidup kita indah ketika mimpi itu masih ada, dan akan terus dikejar sampai mungkin ngga ada lagi yang kebayang buat dikejar lagi. Pernah baca 5 cm kan? Letakkan mimpimu 5 cm di depan keningmu, dan kejarlah impianmu itu. See? Mimpi emang ada buat dikejar, karena kalau udah ngga punya mimpi manusia udah mati.

Ah, tapi kok aku jadi ngelantur panjang lebar gini ya. Gampangannya, jawaban PR di atas adalah kalau aku bisa mengatur mimpiku besok, aku pengen mimpiku berubah jadi kenyataan bahwa aku LULUS ujian kompre. Amiin ya Allohhh.. :)


p.s Ada satu tulisan bagus menurutku, di sini. Minta izin ya mba Icha :)

***
Silakan mengerjakan tag selanjutnya ya :)

*)pic from here

Ujian Komprehensif

8

Labels:

Halooo...
Kali ini Sapi mau curhat aja deh, udah lama ngga curhat *bohong*. Hari ini adalah hari terakhir ujian komprehensif spesialisasi yang artinya adalah aku cuma tinggal menunggu Yudisium saja untuk dinyatakan lulus sebagai diploma 3 keuangan. Cihuy...

Sebenernya, ujian kompre tertulis yang berlangsung dua hari ini bener-bener ngga aku siapin jauh-jauh hari. Masih inget kan gimana kelabakannya aku waktu nyelesaiin laporan PKL, trus belum selesai istirahat dari nyusun laporan yang astaghfirullah banget gitu, tiba-tiba udah kompre aja. Persiapan sangat minimal inilah yang membuat aku rada-rada ngga yakin untuk ujian hari kedua ini. Masa dari 60 soal, aku cuma bisa ngerjain 30 soal doang. Sisanya ngitung kancing beneran deh. Mau gimana, orang materi yang setebel gambreng itu aja baru sempet aku baca sejam sebelum ujian. Doh!

Yang pasti, karena udah telanjur kejadian, all i have to do is just pray and pray. Memohon yang terbaik, supaya di pengumuman tanggal 27 nanti aku tertera di kolom mahasiswi yang lulus ujian. Amiiiiiiiinnnn 7x. Betewe, alhamdulillahnya Gusti Alloh sudah memberikan obat stress yang cukup lumayan mujarab untuk menyembuhkan penyakit pasca-ujian ini: uang PKL ku udah cair *setelah sekian lama*. Alhamdulillah, paling ngga entar malem bisa buka puasa dari duit sendiri. ehhehehe. 

Oya, ada yang tahu harga kaos Liverpool yang asli berapa ya? Siberuang nodong itu sebagai hadiah ultahnya. Iam afraid it will take ALL of my money, karena yang kudenger, harganya bisa setengah jutaan. Oh!


*pic from here

Kaleidoskop SMP

12

Labels:

Mengenang masa SMP tu kaya memaksa otak untuk mengeluarkan berbagai benda-benda kecil yang aku sembunyikan satu persatu dan mengupasnya perlahan-lahan. Ada banyak tambalan ingatan mengenai masa SMP dan semuanya aku simpan terpisah-pisah, karena aku takut jika semuanya terkumpul kembali, maka akan menghadirkan semacam kilas balik yang cukup membuat aku mellow.

SMP artinya kamu bisa dapet pacar siapapun yang kamu inginkan, membuat genk yang seperti apapun, mengikuti berbagai kegiatan organisasi entah karena memang bakat atau sekedar mencari penggemar, nggebetin kakak-kakak kelas cakep yang di masa pertumbuhannya menjadi pria dewasa itu sibuk bermain basket, jerit-jerit puas ketika ada kakak kelas super terkenal yang nyanyi akustikan di pentas seni, atau merinding malem-malem ketika cerita-cerita serem mulai beredar di masa kemah bakti.

Masa SMP adalah masa tumbuh kembang, masa perubahan dari anak kecil menjadi dewasa. Kita sering menyebutnya sebagai masa remaja (adolescense). Di masa-masa inilah hal-hal labil banyak muncul, keinginan untuk menjadi eksis di masyarakat sangat besar, rasa tidak cocok dengan orang tua yang selalu mengatur juga sangat tinggi. Kebutuhan akan pengakuan membuat anak SMP mencari-cari jati dirinya dengan mencontoh hal-hal yang menurutnya bagus di sekitarnya. Makanya ngga heran kalau banyak anak SMP yang ngerokok di belakang sekolah, tindikan, membuat perkumpulan atau geng, ada juga yang jadi nerd atau geek yang ngga populer di kelas, menjadi pengurus OSIS dan Pramuka, ikut berbagai ekskul, menjadi anak kesayangan guru, dll. 

Berbagai pengalaman masa SMP itulah yang menjadi bekal di jenjang kehidupan selanjutnya. Pengalaman SMP membuat kita kebih kaya, lebih arif, lebih mengerti. Meskipun hanya hal-hal kecil yang ngga penting, tapi masa-masa SMP adalah masa dimana kita membentuk diri kita menjadi kita yang sekarang ini. :)

***

Posting ini dibuat dalam rangka Gerakan SEO positif dari bang attayaya yang telah memberikan award ini

ATURAN PEMBERIAN DAN PENERIMAAN AWARD :

  1. Penerima award hendaknya membuat artikel dengan judul mengandung kata "smp" atau "anak smp" yang penting ada kata-kata "smp".
  2. Mengajak teman lain untuk sama-sama membuat artikel dengan judul yang sama atau mirip. Ajak teman minimal 5.
  3. Jika bersedia/berkenan dan telah membuat artikel tersebut, silahkan meninggalkan pesan di :
    http://manajemenemosi.blogspot.com/2010/08/gerakan-seo-positif.html
    agar namanya dicantumkan dalam daftar "Blogger Pendukung Gerakan SEO Positif".
Award dan tugas ini selanjutnya akan aku berikan kepada 5 orang yang beruntung:
1. Septian Angga
2. Gek
3. ataa
4. rosanakmami
5. elok

maaf kalau emang udah dapet.. gpp ya dapet-dapet dobel. hehe.. buat yang lainnya, monggo diambil award nya, gratis-tis, dibuka lebar-lebar..

Happy blogging!

Uang Administrasi

17

Labels:

Negeri ini lucu. Semua rakyatnya ingin Indonesia berubah. Pemerintahan lebih baik. Rakyat yang makmur. Birokrasi yang bersih. Tapi orang-orang dari tingkatan yang paling kecil pun enggan untuk berbenah, enggan untuk merubah diri sendiri.

Kebetulan hari ini aku pergi ke Cilegon, mau ngurus surat numpang nikah di sana. Syarat yang harus dipenuhi antara lain fotocopy KTP, fotocopy KK, pas foto 3x4 berwarna 2 lembar dan ijazah terakhir. Semua sudah dilengkapi, hanya persyaratan birokrasi yang harus dilalui; yaitu dari ketua RT, RW, Kelurahan, hingga ke KUA setempat. 

First, dari semua syarat yang telah dibawa di atas, kita harus bikin surat pengantar dulu ke ketua RT, untuk kemudian dimintakan cap ke RW dan surat pengantar di kelurahan agar dapat diproses di KUA. Nah, yang kedua adalah masalah biaya. Dari berita yang kami dengar, untuk melalui semua proses itu, dibutuhkan sekitar 300 ribu rupiah untuk mengurus masalah administrasi. Bahkan atas keterangan ibu-ibu yang kami temui di KUA, beliau mengatakan prosesnya bisa memakan sejumlah 350 rupiah sendiri.

Sensitivitas masalah administrasi bagi kami ini cukup membuat gerah, mengingat ini adalah bulan puasa dan sangat susah untuk bisa menahan emosi bagi kami (terutama si calon). Untuk itulah kami sudah mempersiapkan berbagai jawaban agar bisa menghindar dari kejaran administrasi tersebut. Di sinilah ujian benar-benar terjadi. Di tingkat kelurahan, kami ditodong 50.000.

Kami bukannya shock, cuma ternyata aku yang belum siap mental ketika mengetahui ada orang yang secara terang-terangan meminta uang dalam urusan seperti ini. Jujur itu bukanlah sebuah jumlah yang besar buat kami, bukannya sombong.  Namun caranya meminta dengan mengatasnamakan musyawarah agar diterima kelazimannya dan kewajarannya, bahwa hal tersebut sudah lumrah di sini, bukanlah hal yang bisa diterima secara lumrah oleh kami. Apalagi ketika kami menjawab bahwa kami bersedia membayar jika ada kuitansi, dan bapaknya cuma bilang, "Ngga ada lah.."

Dengan berat hati akhirnya keluarlah 15ribu dari kantong, satu-satunya alasan adalah karena berkas kami ditahan di kelurahan dan tampaknya tidak ada indikasi akan diloloskan di hari itu juga jika ngga ada pelicinnya. Dengan muka setengah tidak ikhlas kami meninggalkan kantor yang bercat kuning itu untuk menuju ke KUA. Entah bagaimana reaksi bapak-bapak terhormat di dalam sana karena uang administrasinya jauh sesuai harapan.

Sesampainya di KUA, kembali lagi permintaan untuk membayar uang syarat ada lagi. Kali ini tidak secara jelas menyebut nominal berapa. Namun bisa dibayangkan jika ibu-ibu di sebelah saya bisa habis 350ribu untuk selesai di KUA, maka berapa kira-kira jumlah rupiah yang harus dikeluarkan untuk tahap akhir ini. Nominal tidak disebut, maka si calon mengelurakan jurusnya (lagi).

       "Boleh minta kuitansi bu?", tanya si calon halus.
       "Oh, ngga ada kuitansinya mas. Untuk administrasi aja kok"
       "Wah, kalau ngga ada kuitansinya gimana saya pertanggungjawabannya bu. Saya aja untuk ngurus ini harus izin dulu dari pemeriksaan. Nanti kalau diminta bukti pembayarannya bagaimana bu?" jawab si calon lagi. Kebetulan si calon kerja di instansi pemeriksaan milik pemerintah.
       "Oh, gitu *panik*. Iya sudah ngga apa-apa, di bawa aja langsung mas."

Dan sukseslah kami hari itu mengurus surat menumpang nikah dengan total biaya yang dikeluarkan = 15.000 untuk pegawai kelurahan, dan 15.000 untuk membeli oleh-oleh untuk pak ketua RT. Jumlah total 30.000

Aku ingin menegaskan bahwa dalam urusan uang, kami bukanlah tergolong orang yang pelit, yang enggan mengeluarkan uang untuk membantu orang lain. Namun di sini konteks membantunya seperti apa? Kami ngga akan segan membantu pengemis atau pengamen yang terlihat kelaparan di jalan dan belum buka puasa. Maaf bukannya sombong. Poinnya adalah, siapa yang pantas ditolong disini?. Terus terang kami ngga rela uang kami dipergunakan untuk melicinkan hal-hal yang seharusnya sudah licin namun dibuat seret-seret itu. Toh mereka digaji untuk menjadi pelayan masyarakat.

Kami juga bukannya sok suci, kami juga sering melakukan kesalahan yang bahkan mungkin kami lakukan secara sadar. Dan bahkan instansi tempat si calon bekerja dan aku (akan) bekerja pun dicaci di sana sini karena ketidakbersihannya. Maka dari itulah, kami ingin memulai dari diri sendiri. Bahwa sesuatu yang dianggap biasa itu belum tentu benar. Seperti kata aa gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang.

Menurut laporan dari BPKP tahun 2002 saja, 3 departemen terkorup adalah Departemen Agama, Departemen Pendidikan, dan Departemen Kesehatan. Ketiga departemen (sekarang kementerian) ini menurutku adalah tiga instansi yang memiliki peras paling sentral bagi Indonesia. Pendidikan, moral dan kesehatan rakyat. Lah, kalau pengurusnya saja sudah korup, bagaimana bisa becus mengurusi masalah rakyatnya?. Nah sekarang, kalau dari tingkat ecek-ecek saja sudah banyak pelicin di sana-sini, bagaimana permainan kelas kakap di luar sana? Secara logika, pastinya permainan sudah bukan memakai kata ribuan lagi, atau sudah tidak mengenal istilah administrasi lagi. Semua sudah dianggap LUMRAH.

Maka dari itu, pantas lah kalau negeri ini aku bilang lucu. Di sana sini ingin negara ini menjadi lebih baik, tapi tak pernah melihat kepada diri sendiri dulu apakah sudah melakukan hal yang baik. Di ulang tahunnya yang ke 65 ini, aku berdoa semoga Indonesia segera diberi pemimpin yang mampu memegang amanah bangsa, yang benar-benar mampu membersihkan tikus-tikus got dari kelas kakap hingga kelas teri, dan yang terutama mau memperbaiki dirinya sendiri dulu.

Seperti kata dosenku, "Biasakanlah yang benar, jangan membenarkan yang biasa".

Cheers!