inspirasi dari pak dosen.

Labels: , ,


mumpung ada sisa waktu satu jam sebelum kuliah selanjutnya, aku nyempetin buat posting blog deh. ada hal menarik yang diceritakan dosenku di kuliah BPHTB tadi. Beliau adalah dosen yang pernah muncul di salah satu posting blog ku sebelumnya (judul :suami setia). Nah, karena si bapak itu sangat doyan cerita, kami yang sudah mengantuk ini memancingnya untuk bercerita lah biar ngga ngantuk. Bukan membuang waktu sih menurutku, tapi biasanya apa yang beliau ceritakan ini bukanlah hal sembarangan, namun bisa untuk menyulut semangatku khususnya dan teman-temanku mungkin.

ada dua hal inti dari cerita yang beliau sampaikan tadi. yang pertama adalah tentang perjalanan hidupnya saat beliau masih menjadi seorang mahasiswa di Universitas Airlangga, sekitar tahun 1964an. beliau bercerita bahwa ketika menginjak tahun kedua kuliahnya, ayah beliau harus pensiun dari jabatannya, sedangkan beliau memiliki 5 orang adik yang harus sekolah. pada saat itulah si bapak nya pak dosen ini berpesan pada dosenku sejak saat itu dosen ku itu harus mencari biaya sendiri untuk melanjutkan kuliahnya. Secara spesifik beliau mengatakan bahwa saat itu beliau diberi pilihan untuk melanjutkan hidupnya sendiri. Kalaupun mau meneruskan kuliah ya monggo, tapi harus cari biaya hidup sendiri, atau kalau mau berhenti kuliah dan bekerja saja yo silakan.

cerita berlanjut, akhirnya sang dosen memilih untuk meneruskan kuliah. Konsekuensinya, beliau jadi tak punya uang yang cukup untuk nge kost. Nah, karena itu beliau pun memilih untuk tidur di sebuah masjid di daerah Surabaya. Syarat untuk tidur di masjid itu tidak mudah, karena juru kunci masjid (err...maksudnya pengurus masjid) memberi syarat pada sang dosen, kalau mau diizinkan tinggal di masjid, setiap pagi harus bangun sebelum adzan subuh dan harus melakukan hal-hal sebagai berikut : mengisi bak wudhu masjid sampe penuh (saat itu belum ada pompa sanyo, jadi mengisinya harus menimba dari sumur), menyapu halaman masjid dan mengepel masjid sampai bersih.

Beliau bercerita bahwa sarapan paginya tiap hari hanyalah teh panas dan jajanan khas Surabaya (aku ngga tahu namanya, Kokam kalo ngga salah). Kemudian, makan siangnya (beliau mengatakan makan siangnya tiap jam 3 sore) selalu memakai nasi yang diberi kuah opor dan tempe goreng. yap, hanya kuahnya saja. dan saat itu untuk menyiasati makan malam, beliau sengaja memberikan semacam les privat bagi adik-adik kelasnya, tiap habis ashar sampai magrib (lumayan, bisa dapet fee ngajar juga) dan malamnya diajak makan malam bersama keluarga yang di les in itu.

Hal itu berlangsung selama satu tahun, yang kemudian beliau berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga malam di sebuah hotel. Jadinya, beliau sudah muali memiliki kamar sendiri walaupun kecil (bekas kandang ayam sih sebenernya).

Perjuangan beliau itu membuatnya harus lulus sarjana selama 6 tahun, alasannya adalah karena kuliah sambil prihatin itu tadi.Dan sekarang beliau sudah berhasil menjadi Kepala Kantor Pajak, punya 3 mobil dan beberapa rumah. Hebat ya.

Kesimpulan yang aku ambil dari sini adalah, seseorang, kaalau mau sukses ngga ada cara yang instan. Ngga ada rezeki yang jatuh dari langit, ujug-ujug, mak bedunduk, jadi orang sukses dan kaya. Semuanya diawali dari hidup prihatin dan kerja keras. Hidup prihatin bukan berarti harus nelangsa dan melarat lho, tapi maksudnya adalah kita harus tahu bagaimana menempatkan diri kita. Kalau emang punya uang sedikit saja, ya jangan manja meminta hal-hal yang ngga bisa di afford. Jangan boros, jangan suka belanja ini itu yang ngga bermanfaat. atau kalaupun emang pengen beli suatu barang yang butuh extra uang, harus memutar otak gimana caranya bisa dapet tambahan penghasilan.

Mungkin kita ngga punya apa-apa, ngga punya harta, tapi kita punya otak. maka gunakanlah otak itu.


***

Cerita yang kedua. Bapak Dosenku ini dulu pernah dimintai tolong oleh ayahnya, untuk dibelikan pompa air (sanyo kalau bahasa jawanya). Karena suatu hal, beliau berjanji sama ayahnya, "minggu depan saja ya pak". Minggu depannya, ternyata beliau ada suatu keperluan yang tidak bisa ditinggalkan, hingga janjinya terpaksa ditunda. begituuu terus sampai akhirnya satu bulan berlalu. Bulan berikutnya, ayahanda sang dosen jatuh sakit, dan sebulan kemudian ayahnada sang dosen meninggal dunia.

Janji dosenku untuk membelikan pompa air itu pun sudah ngga berguna lagi. Buat apa, toh ayahnya sudah meninggal. Beliau mengatakan bahwa menyesalnya seumur hidup. "Padahal kalau mau saat itu juga di dompet uangnya lebih dari cukup untuk beli 100 pompa air. Tapi ini mulut, malah dengan gampang nya bilang minggu depan. Sampai sekarang nyeselnya ngga hilang", ucap dosenku sambil nahan air matanya. (ngga lebay loh.. emang gitu).

Aku jadi mikir, iya juga ya. Uang sebanyak apapun ngga akan bisa menggantikan semua yang udah diberikan orang tua kita. jadi, mumpung masih hidup, cobalah untuk membalas walaupun sedikit. Ngga perlu pake yang muluk-muluk dan berharga mahal. Cukup dengan perhatian dan bakti kita sebagai anak yang mampu dibanggakan orang tua, mumpung mereka masih hidup.

huft.. jadi terharu.. Inget apa yang udah aku lakuin ke orang tua ku, ngga ada.. belum ada satupun yang bisa dibanggakan dari aku untuk orang tuaku.. aku belum ngasih apa-apa ke mereka.. Semoga belum terlambat sampai aku bisa ngasih sesuatu walaupun sedikit.. Amin.



*) semua cerita di atas hak cipta dari dosenku ya.. :)

3kata temen-temen: