Gayus dan STAN

Labels:


Akhirnya saya tergelitik untuk menulis tentang kasus Gayus-gayus itu. Sebenernya ngga penting deh, walopun isu ini sekarang jadi isu paling hot yang ramai dibicarain di fordis ataupun media elektronik.

Saya, pribadi sebagai mahasiswa STAN yang notabene dulu pernah juga menjadi kampusnya si Gayus-gayus ini jelas tidak terima kalau sampai kampus saya dibilang kampus pengembang-biak koruptor. Siapa sih yang mau nama baik almamaternya tercoreng-coreng? Pastinyalah setiap orang akan membela diri dan membela almamaternya kan ya, terlepas apakah dari STAN, atau universitas lain.Tinggal bagaimana cara membela dirinya.

Berbicara mengenai STAN, desas-desus tentang koruptor sebenernya udah bukan hal baru lagi. Bagaimana tidak, lulusan sekolah ini akan langsung terjun ke dunia kerja, Departemen Keuangan lagi. Tentu saja akan ada banyaaakk sekali komentar dan pandangan orang bahwa ini adalah kampus basah dan lahan basah. Siapa yang tidak? kami masih bocah-bocah berbau kencur yang ketika lulus langsung disuruh untuk mengurus uang yang jumlahnya tidak sedikit. Ada istilah yang mengatakan fenomena ini sebagai fenomena 'balas dendam sosial', yaitu ketika kamu masih mahasiswa dan bukan apa-apa, hingga 'tiba-tiba' mempunyai kekuasaan untuk ikut mengatur keuangan negara. Timbul semacam rasa ingin balas dendam, rasa ingin membuktikan bahwa dirimu bukanlah 'bukan siapa-siapa' lagi, melainkan orang yang punya gaji besar dan akses yang mudah.

Mari kita sebut hal itu dialami oleh Gayus. Terpaan 'kecil' ini bisa dibilang sebuah ujian bagi Departemen Keuangan, ketika sedang gencar-gencarnya berpromosi untuk meyakinkan masyarakat bahwa Depkeu dan DJP secara khusus adalah instansi yang bersih, ternyata muncullah Gayus ini. Dan secara otomatis, kecurigaan masyarakat selama ini bahwa ada yang tidak beres di dunia perpajakan terbukti. Seperti kartu domino, kecelakaan ini berbuntut menjadi ketidakpercayaan masyarakat terhadap DJP lagi, dan menyangka bahwa ada banyak sekali gayus-gayus di badan DJP yang tidak pernah diketahui khalayak umum.

Reaksi yang wajar sebenarnya. Masyarakat sudah sangat lelah untuk tertipu. Jadi saat ada ketahuan oknum yang melakukan korupsi, secara tidak sabar masyarakat langsung menggaungkan nada protes dan berbau provokatif untuk bertindak melawan, yaitu dengan boikot pajak. ada banyak debat yang bisa diikuti mengenai persoalan boikot dan tidak boikot ini. Yang pasti, saya secara subjektif menyatakan bahwa tindakan boikot ini memang tidak dpat dibiarkan. masyarakat boleh kesal, namun seharusnya bukan dengan boikot pajak jalan keluarnya, melainkan merombak dan mengganti (kalau sudah lelah menggunakan kata reformasi) total orang-orang yang ada di dalamnya

Sungguh sangat disayangkan, padahal begitu banyak akibat jika boikot pajak ini benar-benar terjadi. Negara mendapat penerimaan dari mana? apa harus dari hutang lagi? Saya maklum, semaklum-maklumnya, kalau memang masyarakat masih banyak yang belum tersosialisasi mengenai pajak dan penggunaannya. yang disesalkan adlah ulah oknum yang mencoba menunggangi aksi ini sebagai bentuk pembelaan diri agar dirinya yang selama ini tidak membayar pajak jadi merasa benar.

Lalu, apa hubungannya dengan kampus saya, STAN? Yang jelas di sini, saya ingin meluruskan bahwa kampus saya, STAN, tidak pernah mendidik mahasiswanya untuk menjadi koruptor. Bahkan untuk sekedar mencontek, yaitu bentuk korupsi "ringan" saja tidak mendapat ampunan di sini. Lantas dari segi apa orang menilai bahwa kampus kami sekolah calon koruptor?

Orang berbuat tidak baik, tidak semata-mata akibat darimana dirinya berasal. Mungkin pepatah bahwa "gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga" itu benar. gara-gara gayus, kampus STAN jadi obrolan miring di mana-mana. Tapi, orang juga tidak bisa mengatakan bahwa kampus UI (maaf sebut merk) adalah kampusnya koruptor kalau ada salah satu alumnusnya menjadi koruptor kelas kakap, bukan? Persoalan korupsi ini seharusnya bisa dilihat secara dewasa, bahwa seseorang melakukan kejahatan bukan masalah dia berasal dari mana, namun bagaimana lingkungan membentuknya. Saya, sebagai mahasiswa STAN, menyatakan bahwa saya tetap mencintai kampus ini, tetap menganggap bahwa kampus ini adalah kampus yang bebas dari pendidikan korupsi, dan saya juga mendukung pemberantasan orang-orang seperti Gayus.

Jika diibaratkan sebuah kendaraan, STAN adalah sebuah bus yangmengangkut penumpang secara bersama-sama dan beriringan menuju indonesia yang lebih baik, dan orang-orang seperti gayus ini adalah penumpang gelap, yang harus segera diturunkan dari bus, tidak peduli bahwa dulu dia naik bersama kami.

*terima kasih pada pak Minami di kompasiana yang telah banyak memperkenalkan STAN lebih jauh.

0kata temen-temen: