WAKIL RAKYAT

Labels:

Hak untuk memimpin di berikan kepada mereka yang hidupnya sederhana

Aku dapet Quotes ini dari bukunya pak Satria Hadi Lubis  simple, tapi bener2 mengena menurutku. Seorang pemimpin yang patut kita teladani yaitu Nabi Muhammad SAW kita ketahui bahwa hidup beliau sangatlah sederhana. Walaupun usaha dagangnya sukses dan istri pertamanya, Siti Khadijah juga kaya raya, namun beliau meninggal dalam keadaan miskin. Ngga lain dan ngga bukan karena hartanya banyak beliau gunakan untuk kepeningan umat.

Mari kita bandingkan dengan para pemimpin di negeri ini. Menterinya saja mendapat mobil each of them worth 1 billion rupiahs. Its only 1 car, times 34 equals 34 billion rupiahs. Thats a BIG AMOUNT of money, i think. Belum lagi rumah dinasnya. Belum juga gajinya yang puluhan bahkan ratusan juta per BULAN. Belum nanti uang perjalanan dinas keluar kota. Belum uang rapat, uang sidang, uang membuat rancangan undang-undang, tunjangan ini dan tunjangan itu.

Sayangnya, kita tidak pernah tahu berapa porsi APBN yang digunakan hanya untuk keperluan administrasi pemerintahan. Kalau mau menghitung, silakan di site tersebut datanya sudah cukup lengkap. See? seberapa besar gaji dan tunjangan (dan korupsi) para pemimpin negeri ini. Coba bandingkan secara ekstrim dengan para pemulung yang merupakan fakir miskin, sehari mungkin hanya dapat 50.000 rupiah saja.Coba bandingkan dengan gaji presiden yang sebesar 65 juta.0,0769% perbandingannya. Mari beristighfar.

Padahal,di Undang-Undang Dasar, jelas2 tercantum,"fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara". Nah sekarang pertanyakan,dipelihara maksudnya bagaimana? dipelihara agar semakin tumbuh dan berkembang kemiskinannya kah?
***
Kemarin juga aku baru baca artikel dari Kompas cetak, tanggalnya aku lupa, Judulnya "Menanti Potensi Terpendam SBY". Di dalamnya dikatakan bahwa SBY selama ini hanya pintar menjaga citra dirinya dari luar, dan sensitif terhadap hal-hal di permukaan. Terlihat dari komentar-komentar SBY yang lebih mengedepankan penampilan seperti "kamar mandi di wilayah X tidak bersih" atau "para pengunjuk rasa tolong lebih memiliki etiket". Disebutkan bahwa SBY memiliki karakter seorang anak tunggal dan yatim piatu (bukan dalam arti sebenarnya), bahwa beliau berusaha mencari perhatian, agar mata semua orang tertuju padanya, dengan memanfaatkan simpati masyarakat dengan keadannya (waktu itu) yang disudutkan oleh beberapa pihak. Dan usahanya berhasil, beliau menyedot perhatian rakyat Indonesia hingga mampu terpilih 2x dalam kepemimpinan negeri ini.

Sebenarnya itu merupakan kesempatan bagus bagi SBY untuk menunjukkan bahwa dirinya punya kualitas memimpin, mampu menyelesaikan secara tegas berbagai masalah pelik di negeri ini. Negeri ini tidak butuh orang yang hanya peduli soal penampilan,pakaian klimis dan seragam  apik. Negeri ini butuh lebih dari seorang pahlawan yang secara tegas mau berkata IYA atau TIDAK untuk sebuah masalah. Namun apa yang SBY tampilkan,ia selama 2 tahun ini,alih-alih menjadikan dirinya Warrior bagi Indonesia,ia malah tetap mempertahankan karakter anak tunggal dan yatim piatu itu.
***
Jadi pemimpin itu susah. Tanggungan dosanya banyak. Bahkan aku pernah baca, jika ada rakyat yang hidup dai bawah kepemimpinan seseorang dan rakyat itu sampai kelaparan, pemimpinnya mendapat dosa besar. Kalau semua orang tahu betapa berat beban menjadi seorang pemimpin, aku pikir ngga ada yang mau jadi pemimpin. Cuma gajinya saja yang besar,(bahkan bisa korupsi sesukanya). Coba saja kalau pemimpin gajinya sama seperti PNS, pasti ngga ada yang mau. Lantas sebenarnya, apa motivasi mereka untuk memimpin? hati yang tulus karena ingin memperbaiki indonesia dan menyejahterakan rakyatnya,atau......?

Saya pikir ini hanya pertanyaan retoris saja. tidak usah dijawab. Istighfar,dan menanti siapa yang kelak bisa menjadi pemimpin yang sebenarnya.

0kata temen-temen: