Kenapa dengan Pegawai Pajak??

Labels: , ,


Harus diakuin bahwa segala pembicaraan mengenai betapa korupnya instansi DJP ini membuatku gerah, resah dan gelisah (bukan geli-geli basah pastinya).

Bagaimana tidak? ketika aku masih diwulang sama pak dosen Administrasi Pajak Modern, kami bener-bener diyakinkan bahwa DJP sekarang sudah mengalami yang namanya Reformasi birokrasi besar-besaran, dan perilaku koruptif sedang digempur dan dilawan habis-habisan. Dosenku bener-bener menekankan bahwa keadaaan udah jauh berbeda dengan jaman masih orde baru. Bahkan beliau mengatakan jika sekarang masih ada orang-orang yang "basah", maka dia akan malu sendiri..

Tapi semuanya hanya kata dosenku yang notabene juga udah pejabat di lingkungan DJP. Aku sendiri belum tahu keadaan sebenernya DJP kaya apa. Yang aku tahu adalah, apa yang ditanamkan selama kami kuliah ini bahwa pegawai-pegawai negeri di lingkungan Kementerian Keuangan sudah berusaha untuk "membersihkan" KemKeu, dan begitu pula dengan kami nantinya (Insya Alloh).

Dan semua pembicaraan mengenai betapa kotornya PNS pajak membuatku cukup gerah.  
Pengen banget teriak bahwa semua itu ngga bener. 
Bahwa ngga semua pegawai pajak seperti Gayus. Bahwa masih banyak di antara mereka yang masih tetap teguh terhadap idealisme. Bahkan ada yang bersedia dimutasi ke luar jawa, atau dikeluarkan dari bagiannya hanya gara-gara tidak mau "nurut" sama atasannya. Pengen banget ngebuktiin bahwa apa yang orang-orang tuduhkan itu ngga semuanya bener, meskipun emang aku akuin ngga semuanya salah juga.

Aku pengen buktiin, tapi aku sendiri belum punya bukti, secara aku bukan apa-apa. Lagipula kedudukanku sebagai mahasiswa STAN yang notabene tempat kuliahnya Gayus pun akan mengundang tudingan juga bahwa aku subjektif. Iya, aku memang subjektif, membela (calon) instansi ku, tapi bukan berarti aku membela Gayus pula. Dia cuman seorang penumpang gelap, yang wajib diturunkan dari kendaraan. Kami juga membenci Gayus dan orang-orang seperti dia, tapi kami juga tidak terima bila kami digeneralisasikan sebagai orang yang sejenis dengan dia.

Pengen rasanya mengatakan pada orang-orang itu : Kalo emang lo nganggep kita segitu bobroknya, kenapa ngga lo aja yang ada di sini dan ceritain ke kita apakah lo bisa ngelakuin hal yang lebih baik dari kita?  Kalo emang iya, wah aku salut banget! Lo emang pantes jadi pegawai yang baik. Tapi bercermin dulu deh. Apa dalam hidup lo belum pernah sekalipun lo korupsi? Kolusi? Belum pernah 'damai' sama polisi kalao pas lagi ditilang? belum pernah telat juga sebagai bentuk lain dari korupsi?

Tapi aku tahu ngomong kaya gitu ngga ada gunanya. Malah akan membuat masalah ngga selesai dan makin panjang aja urusannya. So, aku lebih memilih buat diem (atau paling engga menuangkan uneg-uneg ngga berarti di blog ini). Jadi aku memilih untuk percaya saja
Sama seperti hubungan dua pasang kekasih, kalau tidak ada rasa kepercayaan di antara keduanya, tidak akan tercipta suatu hubungan yang baik dan sehat. Aku memilih untuk percaya mungkin sebagian karena memang aku mahasiswa STAN, tapi selain itu aku juga ingin menunjukkan bahwa pemerintah kita walaupun sedikit juga masih ada yang berkeinginan besar untuk mengubah sistem pemerintah yang baik demi negeri yang baik pula (duh bahasanya udah kaya bahasa undang-undang). Dan itu adalah salah satu bentuk penghargaanku terhadap mereka yang masih memegang teguh pendirian, nilai kebenaran, dan idealisme mereka.

Terus apa yang akan kamu lakukan? mendukung? menghujat? :)






8kata temen-temen: