My Hijab, My Choice

Labels:


Baru-baru ini aku baca sebuah artikel di kompasiana.com, yang menjelaskan alasan logis mengapa wanita banyak yang memilih untuk berjilbab. Ulasannya cukup menarik dan si penulis berusaha untuk mengemukakan apa sih alesan yang masuk akal kenapa wanita berjilbab. Sebagian besar, saya setuju dengan pandangan si penulis, bahkan saya salut padanya, karena dia telah mencoba untuk memberikan "pencerahan" kepada para wanita muslim yang belum berjilbab (padahal si penulis adalah seorang laki-laki).

Bagian yang menarik adalah komentar yang berdatangan semenjak artikel tersebut dipublikasikan. Mungkin tidak sepopuler artikel yang pernah hampir mendatangkan ribuan komentar, hujatan, sanggahan dan dukungan seperti artikel milik pak Minami yang berjudul "Mengenal STAN almamater Gayus Tambunan Lebih Dekat", namun komentar-komentar yang datang di dalamnya cukup membuatku geram.

Si pengomentar dengan gencar bertanya, dan menyanggah, bahwa angka kejahatan seksual di negeri-negeri yang berkebudayaan tertutup (dia menyebutkan negara-negara arab) lebih tinggi, kebudayaannya lebih terbelakang dan tidak lebih maju daripada di negara-negara barat seperti amerika atau eropa.Dia mengatakan bahwa di hongkong, atau di amerika, orang tidak mudah tergoda oleh nafsu karena sudah terbiasa melihat tungkai wanita.

Karena ini dalam forum diskusi, kan tidak pantas untuk marah-marah dan emosi, kalau tidak terima dengan pendapatnya, kita harus lawan dengan pendapat yang menurut kita benar tapi juga harus objektif dan berdasar kuat Makanya, aku bilang, penganalogiannya mungkin seperti kue yang harganya mahal dengan kue yang herganya 1000 rupiah. Kue yang berharga mahal akan disimpan di etalase yang indah, dan tidak semua orang bisa memegangnya. Berbeda dengan kue yang 1000 rupiah, banyak dijual di warung-warung di pinggir jalan, dan orang dengan bebas memilih dan memegangnya, tak terkecuali lalat.

Aku juga mengatakan, bagaimana orang-orang di negara yang ia sebut maju itu tidak banyak kejahatan seksualnya, lha wong kalau mau berhubungan, ya tinggal pilih aja, ngga usah pakai kejahatan karena bebas tersedia di pinggir jalan. Yah, memang terkesan ada nada emosi sih di komentarku, aku sendiri merasa bahwa sebagai perempuan (yang berjilbab) merasa tersinggung oleh komentar-komentarnya.

Yang perlu mendapat perhatian di sini adalah, banyak orang mengira bahwa penganjuran pakaian berjilbab bagi wanita adalah sebuah bentuk pengekangan terhadap kebebasan dan hak asasi. Wanita di anggap terkekang dan tersudutkan oleh jilbab, dan kebebasan berkespresinya terancam, karena tidak dapat memakai sembarang baju yang dia inginkan. Banyak juga yang berpikir bahwa jilbab adalah sebuah bentuk keterbelakangan, tidak modern, dan mencampuradukkan antara agama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di agamaku , islam, jilbab adalah sebuah kewajiban. Jelas tercantum dalam kitab suci Alqur'an bahwa wanita dewasa wajib menutupkan kain di auratnya, terkecuali muka dan telapak tangan. Hanya saja, karena Indonesia bukanlah negara agama, negara tidak punya hak untuk mewajibkan jilbab bagi wanita, jilbab hanyalah sebuah pilihan : apakah mau melaksanakan kewajiban atau tidak.

Pilihan inilah yang harus dihormati. Mau memakai atau tidak memakai, urusannya ada pada pribadi masing-masing dengan Tuhannya. Tidak ada unsur pemaksaan, apalagi pengekangan terhadap kebebasan. Bahkan kalau menurutku, dengan jilbab wanita bisa lebih bebas beraktivitas tanpa harus khawatir rambut berantakan atau celananya diintip orang nakal. Namun sekali lagi, jilbab adalah pilihan. Coba tanya kepada wanita yang memakai jilbab, apakah mereka terkekang dan merasa derajat wanitanya direndahkan. Tidak akan ada yang merasa seperti itu, karena jilbab baginya adalah sebuah keputusan yang ia ambil secara ikhlas dan sukarela, karena dia sadar sepenuhnya, bukan karena paksaan, bukan karena tersudutkan, bukan karena desakan dan tekanan.


Wanita memilih memakai jilbab, karena hatinya terpanggil kepadanya.


Dan kalau ada yang mengaitkan jilbab dengan kejahatan seksual, bahkan mengaitkannya dengan kemajuan atau kemunduran suatu bangsa, itu ngga ada hubungannya sama sekali. Orang baik dan orang jahat akan selalu ada, apapun agamanya. Kemajuan suatu bangsa juga pilarnya ada pada perempuannya. Kalau perempuannya cerdas dan mampu menjaga dirinya sendiri, mampu menjaga dan mengajarkan hal baik pada anaknya, negara itu pasti maju dan bahagia.

Hujatan terhadap apa yang kita yakini pasti akan selalu ada, jangan dihindari dan jangan dikonfrontasi, justru itu adalah ujian, untuk mengetahui sebarapa cintanya aku dan kamu yang berjilbab untuk mempertahankan keyakinan itu. Bagi yang memang tidak dan belum, mari kita saling menghormati pilihan masing-masing dan hidup damai berdampingan tanpa merasa terancam satu sama lain.

Salam.


p.s postingan ini dibuat dengan tidak ada maksud untuk menyinggung beberapa pihak.


9kata temen-temen: