sedikit tentang bumi manusia

Labels:



Ah, untuk buku ini aku ngga berani nulis resensinya... Terlalu berat, dan emang kualitas buku ini terlalu tinggi untuk kutandingi dan kukata-katain dalam resensiku. Ah, siapa aku ini dibandingkan si legenda hidup Pramoedya Ananta Toer (alm.) kan... Makanya, untuk buku ini aku cuman akan komentar komentar sedikit,,

Awalnya, aku takut untuk membaca buku ini. Bukan apa-apa, aku sudah banyak mendengar kehebatan sang pengarang, betapa ia dipuja dimana-mana, bahkan dia satu-satunya pengarang Indonesia yang jadi nominasi pemegang nobel sastra.. kalo dibandingin sama aku ya kaya ngebandingin gedung pencakar langit sama gubug reyot dibawah jembatan... hahahha.. Makanya, waktu awal, aku takut ngebaca ini.. cuman takut ngga bisa nyelesaiinya..

Tapi ternyata aku salah besar.. Membaca buku ternyata mengalir, semacam tidur malam yang nyenyak dan bangun di pagi hari dengan segar.. Meskipunini buku pertama dari tetralogi buru, namun aku sudah mampu menangkap keindahan setting yang diciptakan Pram, kekuatan para tokoh, dan keindahan plotnya. Bahkan karakter Nyai Ontosoroh pun tak dapat diacuhkan kharismanya.

Di buku ini, Pram seperti menyuntikkan semua isi otaknya, semua ide dan pemikirannya terhadap bangsa Indonesia, dan aku pikir, pemikiran Pram yang sangat luar biasa itu tidak cocok untuk umur bangsa yang masih muda.. Bahkan untuk ukuran sekarang, pemikiran Pram yang revolusioner itu masih tergolong langka (meskipun sekarang sudah banyak intelek yang 'vokal').

Yang pasti, novel ini keren, tapi sayangnya aku belum mau nerusin ke novel keduanya, novel lanjutan dimana tokoh utamanya, si Minke, menjalani hidup setelah terpisah dari istrinya, Annelies : Anak Semua Bangsa.Alasannya sederhana; belum berani. Hahaha.. Alesan....

7kata temen-temen: