narasi kebangkitan nasional

Labels:



20 Mei 2010. Tepat 102 tahun yang lalu bapak-bapak bangsa kita, melalu Boedi Oetomo mendirikan suatu tombak kebangkitan nasional yang menjadi awal dari para pemikir bangsa untuk saling menyumbangkan pikirannya demi kemajuan dan kemerdekaan negeri ini.

Aku membayangkannya melihat melalui sebuah kaleidoskop, yang memantulkan gambar-gambar kondisi bangsa ketika masih era 1900an, ketika belum ada komputer dan sambungan internet untuk menuangkan tulisan-tulisan brilian, ketika belum ada pesawat terbang, belum ada gedung pencakar langit, kotak hitam ajaib yang bernama televisi, dan ponsel untuk saling berkomunikasi.

Apa yang ada sekarang?
Pengangguran intelektual di sana-sini. Lebih dari sejuta jumlah sarjana yang menganggur. Yang masih mahasiswa, sibuk demo ke sana ke mari. Membakar ban di jalan raya, melempar batu ke aparat, merusak pagar gedung MPR.Yang sudah bekerja, sibuk dengan dirinya masing-masing, memadati jalan dengan mobil pribadinya, mencuri-curi waktu makan siang saat ngga ada bos. Pemerintahnya, kebanyakan mejeng di tivi daripada ikut rapat, lebih memilih walk out dan ikut-ikutan walk out saat ada seorang menteri sedang berpidato menyampaikan pendapatnya, atau sibuk menyelamatkan diri ketika diperiksa KPK.


102 tahun kebangkitan nasional. Apa yang didapat bangsa?. Menurutku adalah ironi, yang apabila bapak-bapak pendiri bangsa dulu melihatnya, kini akan menangis. Menangis sedih karena anak cucu nya tak ada yang mendoakannya. Lebih sedih lagi ketika anak cucunya tak ada yang mau menjaga warisan yang telah diperjuangkan untuknya. Seperti seorang kakek yang sedih, ketika sudah bekerja keras hampir seumur hidupnya demi membelikan cucunya sebuah sepeda motor, namun sang cucu malah menyia-nyiakan dan mengumpat-umpatnya.

Mungkin kebangkitan nasional sekarang hanya sebuah pemanis bibir, pelengkap di buku teks pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan jika masih ada, dan sebagai alasan untuk memakai topi merah putih di upacara bendera. Ngga ada lagi yang tersisa, hanya tangisan dan rasa miris di hati pejuang-pejuang bangsa, yang tidak akan pernah di dengar oleh para pejabat yang tidur di kursi senayan, yang tidak didengar mahasiswa yang sibuk berunjuk rasa, dan yang tidak didengar para pekerja yang sibuk dengan urusan bisnisnya.

Semoga, masih ada waktu, 1,2,5,atau 10 tahun lagi kesempatan bagi sang cucu tercinta ini, untuk memperbaiki motor pemberian kakeknya. Untuk menghargai kakek yang telah menyerahkan hati dan cintanya bagi cucunya. Semoga. Semoga.

6kata temen-temen: