Pedagang air, anak nongkrong, dan anak jalanan

Labels:


Perhatikan gambar di atas. Bagi yang tinggal di wilayah yang sering kekurangan air bersih, kayanya pemandangan orang mendorong gerobag yang berisi berjerigen-jerigen air bukanlah suatu hal yang istimewa.

Dan pemandangan ini yang tadi sempet aku liat waktu perjalanan pulang. Aku ngga mikir apapun waktu itu. Yang aku lihat cuma seorang pemuda berkulit hitam, peluhnya bertetesan di bawah teriknya matahari Jakarta, otot lengannya terlihat menonjol, tanda bahwa sering digunakan. Pemuda tersebut mendorong gerobag yang sama, berusaha mengendalikan laju agar air yang dibawanya ngga tumpah sekaligus berupaya agar dirinya tidak menjadi penyebab macetnya jalan umum.

Tiba-tiba aku jadi merasa bersyukur banget. Aku ngga perlu melakukan hal yang sama untuk bisa makan 3 kali sehari, ngga perlu memeras keringat di bawah panas matahari untuk bisa terus kuliah. Semuanya tinggal minta, menengadahkan tangan sama orang tua. Ah, perasaan kasihan pun muncul, meskipun mungkin pemuda tersebut ngga butuh rasa kasihan, yang dibutuhkan hanyalah orang yang mau membeli air-air dagangannya.

Sebenernya aku lebih respek sama orang-orang yang mau berusaha lebih keras, meskipun usahanya itu kelihatannya hanya membuahkan hasil yang sedikit. Misalnya pemuda-pemuda kreatif yang mau ngambil risiko untuk membuka warung makan sederhana, atau kecil-kecilan membuka service hape, atau bapak-bapak yang dengan tabah menjajakan es cendol sepanjang jalan dengan gerobak dorong. Aku sangat appreciate kemauan untuk bangkit, dan semangat yang ngga redup, meskipun mereka hanya punya sumber daya yang terbatas dan kemampuan yang terbatas.

Sedih rasanya kalau ngeliat pengangguran yang malah sibuk nongkrong, kongkow-kongkow di pinggir jalan, godain cewe-cewe yang lewat, ngga jarang main kartu dan nenggak minuman. Mereka menyalahkan nasib karena ngga dapet rezeki sebagus mereka yang berusaha, bahkan mungkin menyalahkan Tuhan, nyerah sama nasib, dan kemudian menghabiskan waktu dengan sia-sia.


Satu lagi yang bikin miris adalah makin banyaknya anak jalanan yang ngamen di jalan. Duh, kasihan sebenernya. Mereka masih kecil-kecil, ada yang masih pake seragam SD yang udah lecek, sambil gendong adiknya yang balita, menyambangi angkot demi angkot sambil bagiin amplop dan kemudian nyanyi ngga jelas dengan suara cempreng mereka. Ngga bisa bayangin deh kehidupan mereka kaya apa, kasihan kadang. tapi dilematis juga kalau dikasih ntar mereka semakin bergantung sama ngamen. Yang paling miris tuh kadang ibu anak jalanan ini nungguin anaknya di bawah jembatan, nungguin setoran anaknya yang jualan rasa iba. *ngelus-ngelus dada*

Ngelihat kenyataan di atas, kayanya aku cuma bisa ngomong; bersyukurlah atas keadaan yang kamu alami sekarang, ngga semua orang bisa nikmatin apa yang kamu nikmatin. Kamu ngga harus dorong-dorong gerobak yang berat di siang yang panas, ngga perlu nadahin tangan dari satu mobil ke mobil lain untuk menjawab keroncongan di perut. Perhatikan keluarga terdekatmu, siapa tahu di antara mereka ternyata ada yang memendam kesulitan. Banyak-banyak memberi ketika kita lagi ada kelebihan rezeki. Rezeki yang ngatur Tuhan, tiap orang memang dapet porsi yang beda-beda, tapi ngga ada salahnya kita berbagi kan?. Mungkin saja pemberian itu bisa menampakkan senyum di wajah mereka. :)
Biarlah manusia saling memberi rezeki kepada yang lainnya. (HR. Al-Baihaqi) 

5kata temen-temen: