Sedih dengan film Indonesia

Labels:


Maraknya kontroversi mengenai Menculik Miyabi akhir-akhir ini cukup menggelitik buatku. Yah, denger-denger si Maria Ozawa ini cuman muncul dikiiit banget di film ini. Dan menurut LSF juga ngga ada adegan syur-nya, makanya film ini lulus sensor. FPI geram, karena tetep aja, Miyabi adalah semacam trademark bagi sesuatu yang ilegal di negara ini (baca: film porno).

Yang bikin aku heran adalah, mengapa, film yang katanya ngga ada adegan panasnya ini bikin kontroversi hebat, dimana-mana terjadi penolakan keras atas film ini, bahkan jauh sebelum beredar. Bahkan Raditya Dika yang sedianya mau nulis skenario aja buru-buru mengundurkan diri. Tapi, mengapa film dalam negeri yang berbumbu horor-konyol-tapi-buka-bukaan itu sama sekali ngga ada gaung protesnya?

Ngerti kan maksudnya?. Aku sering geleng-geleng kepala kalau liat deretan film Indonesia yang nangkring di bioskop-bioskop itu. Dari judulnya sama tampilan luarnya, aku udah bayangin itu film esek-esek yang dibalut sama kulit horor. Aneh, karena film-film ini malah kebanyakan ngingetin aku sama film-film jaman dulu yang sering diputer di bioskop-bioskop pinggiran nan murahan (yang harga masuknya cuman 5000 doank, tempat duduknya keras, dan banyak banget sampah plus tikus), yang biasanya film-film ini ditandai sama kata-kata "gairah, tabu, dll".

Lebih aneh lagi, film buka-bukaan yang berkedok horor ini ngga henti diproduksi sama film-maker Indonesia. Apakah itu artinya film bergenre seperti ini emang digemari sama masyarakat?. Dan apakah itu artinya tingkat pendidikan masyarakat masih rendah karena masih banyak aja yang memenuhi gedung bioskop demi film ngga mendidik macam begini?

Pernah si Joko Anwar, si sutradara Film Pintu Terlarang ini ngetweet begini,"Film Indonesia udah makin parah, kami para sutradara udah menyerah, cuma kalian para penonton yang bisa nyelametin film Indonesia dengan cara tidak menontonnya". Kurang lebih kaya gitu (cmiiw). See? Sebenernya diperlukan suatu pendidikan moral, terutama bagi para remaja, bahwa film-film "hantu" itu ngga mendidik. Satu-satunya cara untuk menghentikan produksi film tersebut adalah : ngga ada yang nonton film kaya gitu.

Jadi, biarin aja dibilang ngga nasionalis karena ngga mau nonton film dalam negeri, kalau toh ngga ada film dalem negeri yang patut untuk ditonton. Emang sih ada beberapa yang menjadi perkecualian, dan kita harus kasih apresiasi sebesar-besarnya bagi film Indonesia yang bener-bener bermutu. Plus, satu lagi, ini bisa jadi motivasi bagi para filmmaker muda kita untuk semakin banyak berlatih membuat film bermutu, biar suatu saat kita bisa bangga sama film dalam negeri kita sendiri.

Tontonan juga harus bisa menjadi tuntunan bukan?

6kata temen-temen: