Aku akan memegang tanganmu setiap pagi sampai kita tua

Labels: , ,


Pada hari pertama kali datang menemaniku di kota tempatku, aku menjemput istriku dan kemudian mengajak menuju rumah kontrakan kami yang cukup kecil. Sejak ketemu sampai tiba di rumah, istriku selalu memegang tanganku. Jadi saat ia memasuki rumah, kami masih bergandengan tangan. Aku adalah seorang pria yang sangat bahagia. Ini adalah kejadian sekitar 15 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai dua orang anak, yang pertama perempuan dan yang kedua laki-laki, dan saya sudah pindah kerja ke ibukota untuk meniti karier. Begitu penghasilan mulai membaik, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah karyawati di suatu instansi pemerintah. Setiap pagi kami berangkat kerja dan sampai dirumah juga pada waktu yang hampir bersamaan. Anak-anak kami pulang pergi belajar diantar oleh orang lain yang kami pekerjakan. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.

Dewi hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berjalan-jalan di pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota ini, dan tanpa sengaja aku mengenal Dewi. Setelah itu, seringkali kami pergi jalan-jalan berdua, dan biasanya Dewi memegang tanganku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah kebiasaan yang sering aku lakukan bersama dengannya. Dewi sering berkata kepadaku, "Kamu adalah jenis pria terbaik yang pernah kutemui."

Kata-katanya seringkali mengingatkan pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, "Pria sepertimu, akan cukup mapan dan akan menjadi sangat menarik bagi para gadis." Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.

Seringkali, pada saat tertentu, ide perpisahan menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh DewI. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita berpisah, apa yang akan kau lakukan? " Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perpisahan adalah sesuatu yang sangat jauh dari ia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

Hingga pada suatu hari, ketika secara tidak sengaja, aku, dewi dan temen-teman pergi ke toko buku dan ketemu istriku. Hampir seluruh temanku menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit curiga. Ia berusaha tersenyum pada teman-temanku. Tapi aku membaca ada luka di matanya. Setelah istriku pulang, sekali lagi, Dewi berkata padaku," He, ceraikan dia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.

Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya, "Ada sesuatu yang harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. "Aku ingin berpisah", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut, "kenapa?" "Aku serius". Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sendok dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki-laki!".

Pada malam itu, kami saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dewi. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perpisahan dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan semua harta dari penghasilan yang telah kami kumpulkan bersama-sama. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati.

Wanita yang telah lebih dari 15 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis didepanku, dimana hal tersebut tidak  pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perpisahan telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah keluar dengan teman-temanku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perpisahan ini. Ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum berpisah, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana:  ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami sebelum segala sesuatunya dijelaskan kepada mereka.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,"Apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pertama kali aku ikut menemanimu dulu?" Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Aku selalu memegang tanganmu. Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu aku akan tetap berpegangan tangan sampai pada waktu perpisahan kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi aku akans memegang tanganmu dari kamar tidur ke pintu keluar rumah." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dewi soal syarat-syarat perpisahan dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menerima perpisahan ini," Dewi mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perpisahan itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika dia memegang tanganku dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"Wah, mama memegang tangan papa, mesra sekali" Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia memegang tanganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia kemudian pergi ke kantor dan aku juga pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia berjalan agak dekat kearahku, kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Pintu gerbang depan sedang diperbaiki, hati-hati kalau kamu lewat sana." Hari keempat, ketika dia membangunkanku, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih memegang tangannya. Bayangan Dewi menjadi samar. Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah disetrika, aku harus hati-hati saat melintasi jalan, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dewi tentang ini.  Selanjutnya aku merasa begitu ringan ketika dia memegang tanganku. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatann ya tidaklah sulit berjalan berduaan sekarang"

Pada minggu kedua, ketika Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk berangkat bersama ke kantor. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat,"Semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya  ia semakin kurus. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. "Pa, sudah waktunya papa dan mama berangkat kerja".  Baginya, melihat papanya pergi bersama mamanya ke kantor menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku memegang tangannya dengan kuat seperti kami kembali ke masa awal-awal pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir, ketika dia memegang tanganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah berangkat ke sekolah karena ada acara di sekolah sehingga harus berangkat lebih awal. Ia berkata, "Sesungguhnya aku berharap aku akan memegang tanganmu sampai kita tua". Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".

Ketika sampai di kantor, aku langsung menghubungi Dewi, ngajar ketemu makan siang di tempat kami biasa makan. Ketika akhirnya waktunya tiba, aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Ketika ketemu Dewi, Aku berkata padanya," Maaf Dewi, Aku tidak ingin berpisah. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku.
"Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dewi, Aku cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin berpisah dengan istriku. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang
aku mengerti sejak aku mengajaknya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu". Dewi tiba-tiba seperti tersadar. Dia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.

Aku keluar ruangan dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis "Aku akan menjagamu sampai kita tua.."




 ***

Tulisan ini diambil dari kompi kantor, yang entah siapa pemiliknya.. ;)

9kata temen-temen: