My Lucky Clover

14

Labels:


Setiap orang membawa keberuntungannya sendiri-sendiri. Ya, aku percaya, Itu juga yang jadi alasan kenapa orang-orang Indonesia memilih untuk memiliki banyak anak dalam satu keluarga. Setiap orang punya rezekinya masing-masing.

Tapi pernah suatu kali aku tanya sama siberuang, "Seumur hidup kamu, pernah ngga menangin undian apa gitu, se-ngga penting-pentingnya undian itu?". Dan secara mengejutkan, jawabannya sama denganku, Tidak pernah. Entah ya, setiap ada undian, seberapa banyak pun aku ngirim kuponnya, namaku ngga pernah tercantum dalam daftar pemenang. Kalaupun memang pernah, itu hanya semacam gerak jalan massal satu kampung yang hadiahnya juga beratus-ratus. 

Bukannya kurang bersyukur sih. Kalau disebutin satu-satu, udah banyak kenikmatan dari Tuhan yang aku miliki. Mulai dari anggota badan yang lengkap dan sehat, keluarga yang menyenangkan, calon suami yang seekor beruang *tabok*, bahkan kenikmatan bernafas itu bener-bener suatu hal istimewa yang sangat patut disyukuri. Tapi kok bad luck ya? Kadang suka iri aja kalau denger ada temen baru aja menangin BB lah, menangin mobil lah, rasanya kok dunia macam kamu-jadi-pemenang-dapat-hadiah-gratis itu sangat jauh dari anggapan "nyata" buatku.

Tapi untungnya, yah ternyata aku ngga sendirian. Justru karena bad luck ku mungkin ya, jadi aku ketemu sama beruang yang notabene juga punya bad luck juga. hahaha, teori ngawur sih. Yang pasti, kalaupun nanti-nanti ada undian apa, kata menyerah adalah kata terakhir yang mungkin ada di kamus ku dan beruang. Tapi kata menang mungkin akan segera terlupakan secepat kami memasukkan nomor undian ke kotak. Kalaupun memang nanti ternyata menang, alhamdulillah. Tapi kalau engga, sudah lupa tuh? :)


*) hell yeah, barusan aja googling, dan kayanya aku ketemu jawaban kenapa keberuntungan seseorang bisa sedemikian kecil. Baca aja artikelnya di sini dan di sini. Apa kalian juga termasuk?

Kakek

7

Labels:


“Kakek, aku anter aja ya”, ucap Cucu pada Kakek saat melihat Kakek sedang bersiap-siap untuk rutinitas hari Sabtunya. Kakek menggeleng pelan. Rahangnya mengeras. Kakek meraih peci hitamnya dan kruknya.

Cucu hanya geleng-geleng kepala, sambil melempar pandangan bertanya pada Ibu. Yang dipandangi hanya mengambil napas panjang, dan memilih untuk tidak berkomentar dan masuk ke kamar. Merasa tidak mendapat jawaban, Cucu hanya mendesah dan meneruskan kesibukannya di depan komputer.

Usia Kakek sudah hampir 90 tahun. Rambutnya sudah putih sempurna, tipis dan botak di bagian tertentu. Kulitnya keriput karena usia, punggungnya juga sudah bungkuk. Mantan pejuang ’45 ini harus menggunakan kruk untuk berjalan karena kaki sebelah kirinya tak ada di tempat seharusnya. Kakek kehilangan kaki kirinya ketika pertempuran di Yogyakarta pada saat Agresi Militer Belanda II. Menjadi seorang veteran perang tak membuat Kakek bahagia dan tentram di sisa-sisa hari tuanya. Rumahnya tetap saja sepetak kecil, berdinding setengah permanen. Satu-satunya “penghargaan” yang dimilikinya adalah sebuah piagam yang kini menguning dan usang di dinding ruang tamu.

Sebelum berangkat, Kakek memandang potret hitam putih dirinya dan Nenek yang ia simpan di saku jas coklatnya. Ia pandang dengan mata berkaca-kaca, untuk kemudian ia masukkan lagi ke tempat semula. Setelah meraih buku yang ia simpan baik-baik di almari dan memasukkannya ke kantong plastik bersama Alqu’an yang sebelumnya telah ada di dalamnya, Kakek berangkat.

“Pagi kek!. Sudah mau berangkat?”, sapa Tetangga melihat Kakek keluar rumah.

“Iya. Monggo.

Nggeh, ngatos-atos mbah”.

Kakek berjalan pelan dengan kruknya, menyusuri jalanan kotanya yang ramai, menyusuri kali, menyeberang lewat jembatan, melewati hiruk pikuk pasar, menyapa beberapa orang yang telah ia kenal, dan sesekali menepuk-nepuk saku jas coklat sebelah kirinya. Kegiatan favorit Kakek sepanjang perjalanan adalah menerawang jauh menembus waktu, di mana kota ini masih seperti ingatannya yang dulu. Selayaknya foto hitam putih yang telah menguning dan kusam, Kakek melihat kotanya yang dulu sepi kini telah ramai. Ia membayangkan manusia-manusia ini adalah cucu-cucu dari teman-teman seperjuangannya. Beranak pinak, membentuk keluarga, membentuk komunitas, dan akhirnya menjadikan kota ini telah banyak berubah.

Langkah kaki Kakek berhenti pada segundukan tanah bernisan, di kompleks pemakaman yang tak terlalu luas. Kakek duduk di selembar kertas koran dengan susah payah, meletakkan kruknya, dan terdiam sejenak memandang kuburan di depannya.

Sri Lestari, wafat 12-08-1997”. Begitu yang tertulis di nisan. Di tempat inilah Nenek dikuburkan lebih dari 10 tahun yang lalu. Nenek telah mendampingi hidup Kakek selama lebih dari 50 tahun. Kakek mengusap pelan air yang keluar dari matanya, kemudian ia mengambil alqur’an dan mulai membacakan doa untuk Nenek. Khusyuk dan khidmat Kakek membaca doa-doa untuk Nenek. Bagi Kakek, doa-doa ini khusus ia panjatkan sebagai tanda cintanya pada Nenek, pada perempuan yang ia cintai pada pertemuan pertama mereka, pada wanita yang telah mendampinginya selama sisa hidupnya. Kakek berharap, dengan doa-doa yang ia panjatkan ini, Kakek dapat bersama-sama Nenek kembali nanti di tempat yang kekal dan bahagia.

Selesai membacakan doa, Kakek mengambil sebuah buku usang yang berwarna kekuningan. Buku favorit Nenek. Sebuah cerita silat jaman dahulu, terbitan tahun 1960. Ejaannya masih lawas, kertasnya juga sudah lapuk karena seringnya dibaca dan karena faktor usia. Kakek membuka halaman tertentu yang terlipat, dan meneruskan bacaannya yang terhenti Sabtu lalu. Perlahan, Kakek mulai mendongengi Nenek.

***

“Kek, makan dulu kek”, Cucu mengingatkan Kakek yang sedang duduk di samping jendela, menerawang ke luar. Kakek tak menjawab.

“Kek, makan dulu. Mumpung masih hangat. Nanti Kakek sakit”, lanjut Cucu. Kakek menoleh pelan, kedua alisnya bertemu, mukanya masam. “Nanti!”, jawab Kakek agak keras. Cucu beringsut perlahan dan mengalah.
 
Kakek selalu menghabiskan sore berhujannya hanya dengan duduk di samping jendela, dengan mata menerawang ke halaman, ke pelataran yang basah oleh hujan, ke pohon-pohon yang basah kuyup, ke binatang-binatang air yang berpesta, dan ke kejauhan seakan di sana ada seseorang yang menunggunya. Hujan adalah mesin waktu baginya, suasana yang dingin dan biru ini membantu Kakek untuk melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Saat Nenek masih ada, istri tercintanya yang paling setia. Nenek akan membuatkannya secangkir kopi panas jika hujan turun. Kakek dan Nenek kemudian akan bercengkerama di ruang tamu, membicarakan apa saja sambil mendengarkan nyanyian hujan.

Nenek akan mulai memijatnya, mendengarkan keluh kesahnya, dan menyelimutinya jika ia tertidur. Kakek juga teringat, Nenek akan menungguinya sampai malam larut jika Kakek tak kunjung pulang. Tanpa kantuk, tanpa keluh. Kemunculan Kakek di pagi buta hanya disambut dengan senyum dan secangkir teh hangat. Cinta Nenek yang tak bersyarat, yang tulus, yang setia itulah yang membuat Kakek sangat rindu padanya.
 
***

Sabtu yang kesekian, Kakek meraih kruknya dan bersiap seperti biasa. Cucu sudah berusaha keras untuk mengantar Kakek ke kuburan, namun tetap saja Kakek dengan keras kepala mengatakan tidak. Momen berjalan di sepanjang jalan bagi Kakek adalah momen berduanya dengan Nenek, tak ada seorangpun yang mengganggunya.

“Kakek, biar Kakek mboten kehujanan. Kan kalau saya antar, Kakek cepat sampai. Sudah mendung sekali, Kek”, bujuk Cucu. Cuaca memang sedang mendung di luar. Awan gelap sudah menunggu, tinggal satu sentuhan saja mungkin hujan akan turun. Akan tetapi Kakek tetap menggeleng. Ia melangkah keluar dan berpesan, “Mengko wae, kamu rapikan rumah. Mau ada tamu”.

Kakek menyusuri jalanan yang sudah ratusan kali ia lewati, ia sudah hapal kerikil-kerikilnya, ia sangat hapal orang-orang yang akan ia temui sepanjang jalan. Ia melewati jembatan, melihat sebentar sungai di bawahnya, kembali meneruskan perjalanan dengan kruknya, dengan satu kakinya. Kakek memandang di kejauhan, mengira-ngira berapa lama lagi ia harus bersabar menunggu seperti ini, berapa lama lagi ia bisa berkumpul lagi dengan orang yang ia sayangi. Orang yang kepadanya telah ia bagi hidupnya selama setengah abad. Kakek hanya menduga-duga, dan di tengah lamunannya itu Kakek melihatnya. Kakek melihat perempuan yang begitu ia rindukan, dalam balutan kebaya putih dan kerudung putih. Kakek melihat perempuan yang sangat ia nantikan di seberang sana. Kakek percaya sepenuhnya, dia adalah Nenek. Hanya saja wajahnya menjadi jauh lebih muda, badannya tidak membungkuk, kulitnya tak keriput. Ia adalah wanita yang sama yang telah hidup bersamanya.

Setengah berlari, Kakek menghampirinya. Berusaha memanggil namanya, agar perempuan itu menunggunya, agar perempuan itu tak memalingkan wajahnya dari Kakek. Perasaan euforia menyelimuti Kakek, belum pernah ia sebahagia ini. Kakinya terseok-seok mengikuti tubuhnya yang ingin segera sampai di tujuan. Saat itulah, di tengah jalan, kruknya terlepas dari pegangan.

Keseimbangan Kakek goyah. Ia jatuh tertelungkup. Kruknya terjatuh agak jauh disebelah kirinya. Perempuan itu masih melihatnya, Kakek tersenyum padanya. Kakek tak merasakan sakit tatkala mobil yang gagal mengerem tepat saat dirinya jatuh tersungkur itu melintas di atas tubuhnya. Kakek hanya tersenyum.

Beberapa saat kemudian hujan turun. Perempuan berjilbab dan berkebaya putih itu sudah tak ada di sana. Jasad Kakek ditemukan sedang menggenggam potret hitam putih dirinya dan Istri tercintanya.


Keterangan:
Monggo             = silakan
Nggeh, ngatos-atos mbah    = Ya, hati-hati kek
Mboten                = tidak
Mengko wae        = nanti saja

*) pic from here


******
Mengapa sapidudunk tiba-tiba membuat cerpen?
lagi pengen aja. Seminggu ngga ada kerjaan, jadinya iseng-iseng bikin.

Tujuannya?
buat mengetahui aja, apakah aku ada bakat nulis cerpen atau engga

Kalau cerpennya jelek?
Ngga masalah, thats why i posted it on my own blog. jadi kemungkinan buat dimuat 100%

Kalau pembaca pada mencaci-maki?
Itu salah satu tujuan yang lain. Aku malah bersyukur kalau ada yang ngata-ngatain, asal ngata-ngatainnya jujur. Biar ada motivasi buat aku untuk bikin yang lebih baik lagi.

Ada pesan dan kesan?
Yah, emang buku kenangan ya pake kesan dan pesan -__-

(obrolan ngga jelas) :)

Bunga di Tepi Danau

10

Labels:


Kamu meninggalkan bekas yang dalam padaku. Memalukanku di depan umum. Tapi aku tahu dari sorot matamu, ada sesuatu yang berbeda yang kamu rasakan padaku. Mungkin itu alasanmu menjadi labil dan bingung dengan apa yang kamu lakukan. Mungkin saat ini kamu sedang mengutuk dirimu habis-habisan, mengapa sebodoh ini melakukannya padaku. Mungkin saat ini kamu ingin pergi saja, tapi terlalu malu untuk menghentikannya secara tiba-tiba. Kamu tidak ingin aku tahu tentang perasaanmu. Tapi aku bisa membaca lewat sorot matamu. Kamu mulai sayang aku. Ya, aku tahu. 

Akhirnya kamu pergi. Aku tahu kamu akan pergi, mungkin kamu merasa bersalah atas perbuatanmu padaku sehingga memutuskan bahwa mungkin aku akan membencimu. Kamu benci risiko, itu aku tahu sejak awal. Tapi kamu sudah salah langkah. Tatapan kita yang terkumci saat itu sudah mengungkapkan segalanya. Bahwa kamu menyayangi aku, dan aku pasrah dipermalukan olehmu. Tapi kamu memilih untuk pergi. Aku tak bisa menyalahkanmu, tentu saja. Tak pernah ada kata-kata untuk mengikat diri kita pada satu  titik. Tak ada perjanjian bahwa kamu akan selalu ada disini. Bahkan tak ada pernyataan apa-apa darimu semenjak kejadian itu. 

Aku cuma tahu, setelah kamu pergi aku banyak menyendiri. Di danau, dengan rakit sederhana, aku menelusuri tiap tepi, memandang tiap detail suguhan alam yang hijau di danau ini. Aku masih memikirkanmu. Mungkin kamu juga memikirkan aku, tapi aku tidak yakin. Mungkin kamu sampai sekarang masih mengutuki kebodohanmu, satu-satunya jalan penghubung antra kita berdua sudah kau tutup dengan memalukan. Asal kamu tahu, aku memaafkanmu.  Kusampaikan salam-salamku untukmu melalui riak air yang bertemu dengan rakit, melalui desau-desau angin yang mencium lembut ujung daun-daunan. Aku memikirkanmu.

“Tak ada hal yang berubah jika hanya dilamunkan saja”, itu kalimat terpanjang pertama yang dia sampaikan padaku. Mungkin belum pernah ada pengunjung yang lebih setia daripadaku. Setiap hari mengunjungi danau, dan berkeliling menggunakan rakitnya. Aku pandang dia lekat-lekat untuk pertama kali, merasa bersalah karena selama ini lebih menganggap bahwa pendayung rakit ini tidak ada. Kemudian tersenyum, karena dia tak berusaha mengalihkan pandangan dari tatapanku. Bahkan seolah menjawab tantangan, pandangannya tetap lurus ke mataku, dengan lebih tajam. Aku kalah, aku tersenyum dan menoleh. 

“Hanya saja, ada sesuatu yang hanya bisa hidup dalam lamunan”, kataku beberapa saat kemudian menjawab pernyataan si Tukang Dayung. Aku ingin mendengar jawabannya, namun ia tak mengatakan apa-apa. Kesunyian yang bagiku aneh, menyelimuti kami berdua. Seolah si Tukang Dayung adalah patung yang sejenak tadi hidup, untuk kemudian beberapa saat kemudian mematung lagi. Aku toleh dia, aku kembali pandang matanya, namun tak ada apa-apa di sana. Hanya pantulan warna air dan warna hijau yang tergambar di sana. Aku pun melanjutkan lamunanku tentangmu. Kembali tentangmu.

“Bunga yang ada di ujung danau itu adalah bunga paling kesepian di dunia”, kata si Tukang Dayung suatu pagi, beberapa hari setelah kediaman tak berujungnya. Mau tak mau aku langsung menoleh padanya. Mengharap ia berkata lebih jauh. Matanya lurus ke arah ujung danau yang bertepian dengan bukit yang menjulang. Aku mengikuti tatapannya dan tak menemukan apapun. Kami terdiam cukup lama hingga akhirnya sesampai di ujung danau, aku melihatnya. Sekuntum bunga warna putih, kecil sekali. Bunga itu sendirian, tak ada rumpun-rumpun bunga lainnya. Mungkin jika ada orang lewat, bunga itu akan terinjak karena ke-tidakterlihatan-nya dan karena ketidamencolokannya. Aku tahu ini bunga yang ia maksud. 

“Ia hanya mekar selama 2 hari. Untuk kemudian layu dan gugur. Perlu waktu 6 bulan baginya untuk memunculkan kuncup baru”, jawab si Tukang Dayung pada pertanyaan bisuku. Enam bulan, adalah waktu yang sama sejak kamu meninggalkanku. Dan waktu selama itu dilalui rumpun bunga ini untuk memunculkan kuncup baru.

“Mengapa?” tanyaku. Ia tak menjawab, hanya diam dan mulai membawa rakitnya menjauh. Aku menghalaunya, aku masih ingin melihat bunga itu. “Besok masih ada satu hari lagi, kalau kamu ingin lihat”. Aku mengalah, dan hari itu adalah hari terpendekku di danau semenjak 6 bulan lamanya aku menyendiri di sini.
 
Si Tukang Dayung tak merasa heran aku datang lebih pagi dari biasanya hari itu. Ia hanya tersenyum, senyum pertamanya, dan mulai membawa rakitnya menjauh dari tepi danau. “Di pagi hari, bunga itu akan kelihatan lebih indah”, ujarnya pelan, diiringi suara kecipak air saat bertemu dengan kayuhan dayungnya. Aku menerawang. Semalaman aku masih memikirkan Bunga Sepi itu. Ini kali pertama aku datang tanpa motivasi tentang dirimu, aku datang karena ingin melihat Bunga Sepi yang hanya mekar selama 2 hari. Aku datang pagi ini karena hari ini hari terakhir Bunga Sepi memamerkan kesederhanaan mahkotanya pada danau, pada air, dan pada seorang gadis asing yang baru saja mengenalnya.
 
“Ia akan mekar lebih indah di hari terakhirnya. Diwaktu subuh, bau wangi akan menyebar, lalu hilang perlahan-lahan menjelang petang”. Kami sudah sampai di ujung danau, tempat bunga itu berada. Sudah melewati waktu subuh, bau wangi bunga ini sudah tak begitu kentara. Tapi aku melihat mahkotanya lebih mekar dari hari kemarin dan ada sedikit sentuhan warna merah jambu di pusat mahkotanya. Warna indah itu mengelilingi putik yang sendirian tanpa adanya benang sari. Aku baru saja akan bertanya ketika si Tukang Dayung berkata, ”Karena kesendiriannya, yang membuat ia begitu istimewa.”

Ya, mengapa bunga itu sendiri? Mengapa dia tak mencoba untuk membiakkan dirinya, hingga ia punya banyak teman? Kamu tahu alasannya? Apa mungkin ia seperti aku, yang menunggumu, tak berujung, tak bertepi, 6 bulan lamanya. Selama dua hari saja aku akan menampakkan kecantikanku, keistimewaanku, untuk menyambutmu datang. Walaupun aku tahu, akhirnya memang kamu tak datang. Bukan merupakansebuah bentuk kekecewaan jika aku kemudian layu dan gugur. Bukan merupakan bentuk putus asa juga jika aku berdiam selama 6 bulan lamanya. Itu hanya aku, mencoba menyimpan semua gambaran-gambaran indah yang masih ada di ingatan. Ketika aku memandang matamu, ketika pandangan kita terkunci. Itu hanya aku, yang tak ingin ingatan itu hilang. 

Aku tersadar ketika rakit mulai menjauh. Aku protes pada si Tukang Dayung. Mengapa, padahal hari belum juga beranjak senja. Aku hanya ingin melihat hari terkahir bunga itu.

“Tak ada gunanya melihat seseorang yang beranjak rapuh dan menyerah jatuh. Lebih berguna melihat bagaimana orang itu terdiam, menunggu dalam harapan selama enam bulan berikutnya”, kata si Tukang Dayung menjawab protesku. Dayungannya berhenti. Kami berdua diam di tengah danau, dengan angin menerbangkan ujung-ujung rambutku. Dia berjalan mendekatiku, menatapku seperti saat kali pertama ia menatapku dulu. Tangannya menelusuri garis wajahku, berhenti di daguku dan mengangkatnya sedikit. 

“Tak ada yang lebih menyedihkan sekaligus membahagiakan melihat seseorang yang menyimpan harapan untuk menunggu, selama apapun. Walaupun harapan itu bukan untukku, walaupun aku tahu orang itu tidak menungguku. Aku cukup bahagia hanya menjadi bayangan. Hanya menjadi angin. Hanya menjadi tanah. Hanya menjadi air danau. Atau hanya menjadi si Tukang Dayung, yang datang tiap hari untuk menjengukmu”.

Ia berlutut, hingga tinggi badan kami sejajar. Aku membeku oleh tatapannya. Aku tak berusaha menepis tangannya yang masih memegang daguku. Dia mendekatkan bibirnya, mencondongkan badannya, dan menarik wajahku. Dikecupnya pelan keningku, hangat dan lembut. Aku terpejam, hingga tak sadar ia sudah kembali ke tempatnya semula, mengayuh  dayungnya kembali menuju tepi danau.

***

Aku tak pernah kembali lagi ke danau itu. Aku tak pernah menyempatkan diri untuk sekedar berjalan di tepinya, atau berusaha melihat di kejauhan. Aku pergi sehari setelah Bunga Sepi itu gugur. Aku menghapus semua ingatan tentang danau, tentang Bunga Sepi, dan tentang kamu. Kamu sudah seperti album foto kusam yang tersimpan di almari memoriku yang paling dalam. Aku tahu kamu sudah hidup menjadi kenangan dan menjadi khayalan, karena kamu tak pernah ada. Satu-satunya janji yang aku ingat yang aku ucap pada diriku sendiri, enam bulan lagi aku akan mendatangi pemuda itu. Si Tukang Dayung. 

Dia mungkin hadir bersama desau angin dan bau khas danau yang sepi dan hijau itu. Mungkin ia akan menyambutku tanpa berkata apa-apa, ia mungkin hanya akan membawaku menyusuri tepi  dan berujung pada Bunga Sepi. Ia mungkin hanya akan mengajakku melihat mekarnya Bunga Sepi yang hanya dua hari. Namun ia akan sadar, bunga itu juga mekar di mataku saat dia memandangnya. Menyelami kedalamannya. Dan ia akan sadar bahwa aku sudah tidak menunggu siapa-siapa. Dialah yang menungguku.

With love
23 September 2010.
07.00-08.34
Magelang
*) pic from here and here

Maybe today is another bad day for me

6

Labels:


Bisa dibilang blog sudah menghilang dari duniaku selama 3 minggu terakhir. Alasannya tentu aja, lebaran. Dan, alasan lain adalah sibuk ngurus ini itu. Dan yang paling penting adalah, aku lagi PMS.

1. Mau minta maaf lahir batin dulu sama semua sobat blogger. Jujur-jujuran aja nih, aku sering jahat karena ngga bales komentar, dan jarang kunjungan balik ke temen-temen. Kadang juga aku suka milih-milih siapa yang aku follow siapa yang engga. Kind of that lah. Intinya aku udah banyak banget salah, dan wajib buat minta maaf buat semua temen-temen blogger.

2. As you know, aku melalui ujian komprehensif dan udah minta-minta doa segala, namun nyatanya aku ngga lulus dan harus ngulang. Untunglah di ujian kedua aku lulus. Shock terapy banget dah waktu itu, meskipun ngga sempet nangis segala. Aku udah tahu sih kalau aku ada kemungkinan ngga lulus karena aku ngga bener2 serius belajarnya (baca: ngegampangin). Tapi ngga tahu kalau rasanya bakal nyesek juga ya.

3. Aku pulang ke kampung halamanku yang dingin, dimana aku bisa bangun sampai siang dan mandi sekali sehari (dingin banget airnya, sumpah). Hujan terus tiap hari, dan ngga ada sumthing worth buat dikerjakan karena hawa santai dan males-males yang terus mengudara di kota kecilku ini. 

4. Cuma bawa 3 buku bacaan ke rumah dan sangat menyesal melakukannya. Untung nemuin toko buku bekas (which is sangat jarang ada di kotaku ini) dan membeli 3 buku. Dan finally, sekarang aku udah kehabisan bahan bacaan, bikin mati gaya bener dah. 

5. Masih ada sangkut pautnya yang nomor 4, karena duit lagi mepet kalo harus beli buku baru, satu-satunya pilihan adalah pergi ke perpus kota yang emang udah jadi langgananku dari masih jaman SMP. Nah, kali ini aku bakal cerita rada panjang.
Jadi, karena udah 3 tahun meninggalkan kota ini, kartu anggota perpusku otomatis udah kadaluwarsa. Waktu aku di jakarta, kartunya dipinjem bokap, then diperpanjang. Ngga tahu gimana ceritanya.. tau-tau kartuku udah ilang aja. Aku baru tahu ya kemaren itu. Katanya petugas perpusnya sampe dateng ke rumah buat nagih buku yang ngga dibalikin plus denda-dendanya. Kata nyokap sih buku yang dipinjem dulu udah dibalikin, dan kartunya lantas hilang. Aku berasumsi kalau ada orang yang manfaatin kartuku buat minjem dan kemudian ngga balikin bukunya. UGH. 

Akhirnya dikasih uang secukupnya karena jujur aja nyokap bokap ngga sanggup bayar denda selama 3 tahun plus biaya buku yang hilang itu. Nah, tadi kemudian aku ke perpus itu, ceritanya buat bikin kartu baru atas namaku. And you know what, aku sekarang masuk daftar BLACKLIST dan ngga boleh bikin kartu keanggotaan lagi di perpus itu.

Aku lagi keadaan PMS, tahu bahwa stok bacaanku udah abis dan aku bakalan mati gaya di rumah selama beberapa minggu, dan satu-satunya yang kuanggap bisa kumintain tolong (yaitu sang perpus) malah nge blaclist aku gara-gara sesuatu yang bukan salahku. 

Tahu kan rasanya?? udah kaya di ubun-ubun dah betenya. Mana siberuang cerewet soal ini itu lah. Huft. Berlarilah aku ke warnet terdekat, guna menyalurkan semua kebetean ini. Dan, dengan ini, resmilah dunia blog masuk lagi di kehidupanku. Welcome, sapidudunk!!