Bunga di Tepi Danau

Labels:


Kamu meninggalkan bekas yang dalam padaku. Memalukanku di depan umum. Tapi aku tahu dari sorot matamu, ada sesuatu yang berbeda yang kamu rasakan padaku. Mungkin itu alasanmu menjadi labil dan bingung dengan apa yang kamu lakukan. Mungkin saat ini kamu sedang mengutuk dirimu habis-habisan, mengapa sebodoh ini melakukannya padaku. Mungkin saat ini kamu ingin pergi saja, tapi terlalu malu untuk menghentikannya secara tiba-tiba. Kamu tidak ingin aku tahu tentang perasaanmu. Tapi aku bisa membaca lewat sorot matamu. Kamu mulai sayang aku. Ya, aku tahu. 

Akhirnya kamu pergi. Aku tahu kamu akan pergi, mungkin kamu merasa bersalah atas perbuatanmu padaku sehingga memutuskan bahwa mungkin aku akan membencimu. Kamu benci risiko, itu aku tahu sejak awal. Tapi kamu sudah salah langkah. Tatapan kita yang terkumci saat itu sudah mengungkapkan segalanya. Bahwa kamu menyayangi aku, dan aku pasrah dipermalukan olehmu. Tapi kamu memilih untuk pergi. Aku tak bisa menyalahkanmu, tentu saja. Tak pernah ada kata-kata untuk mengikat diri kita pada satu  titik. Tak ada perjanjian bahwa kamu akan selalu ada disini. Bahkan tak ada pernyataan apa-apa darimu semenjak kejadian itu. 

Aku cuma tahu, setelah kamu pergi aku banyak menyendiri. Di danau, dengan rakit sederhana, aku menelusuri tiap tepi, memandang tiap detail suguhan alam yang hijau di danau ini. Aku masih memikirkanmu. Mungkin kamu juga memikirkan aku, tapi aku tidak yakin. Mungkin kamu sampai sekarang masih mengutuki kebodohanmu, satu-satunya jalan penghubung antra kita berdua sudah kau tutup dengan memalukan. Asal kamu tahu, aku memaafkanmu.  Kusampaikan salam-salamku untukmu melalui riak air yang bertemu dengan rakit, melalui desau-desau angin yang mencium lembut ujung daun-daunan. Aku memikirkanmu.

“Tak ada hal yang berubah jika hanya dilamunkan saja”, itu kalimat terpanjang pertama yang dia sampaikan padaku. Mungkin belum pernah ada pengunjung yang lebih setia daripadaku. Setiap hari mengunjungi danau, dan berkeliling menggunakan rakitnya. Aku pandang dia lekat-lekat untuk pertama kali, merasa bersalah karena selama ini lebih menganggap bahwa pendayung rakit ini tidak ada. Kemudian tersenyum, karena dia tak berusaha mengalihkan pandangan dari tatapanku. Bahkan seolah menjawab tantangan, pandangannya tetap lurus ke mataku, dengan lebih tajam. Aku kalah, aku tersenyum dan menoleh. 

“Hanya saja, ada sesuatu yang hanya bisa hidup dalam lamunan”, kataku beberapa saat kemudian menjawab pernyataan si Tukang Dayung. Aku ingin mendengar jawabannya, namun ia tak mengatakan apa-apa. Kesunyian yang bagiku aneh, menyelimuti kami berdua. Seolah si Tukang Dayung adalah patung yang sejenak tadi hidup, untuk kemudian beberapa saat kemudian mematung lagi. Aku toleh dia, aku kembali pandang matanya, namun tak ada apa-apa di sana. Hanya pantulan warna air dan warna hijau yang tergambar di sana. Aku pun melanjutkan lamunanku tentangmu. Kembali tentangmu.

“Bunga yang ada di ujung danau itu adalah bunga paling kesepian di dunia”, kata si Tukang Dayung suatu pagi, beberapa hari setelah kediaman tak berujungnya. Mau tak mau aku langsung menoleh padanya. Mengharap ia berkata lebih jauh. Matanya lurus ke arah ujung danau yang bertepian dengan bukit yang menjulang. Aku mengikuti tatapannya dan tak menemukan apapun. Kami terdiam cukup lama hingga akhirnya sesampai di ujung danau, aku melihatnya. Sekuntum bunga warna putih, kecil sekali. Bunga itu sendirian, tak ada rumpun-rumpun bunga lainnya. Mungkin jika ada orang lewat, bunga itu akan terinjak karena ke-tidakterlihatan-nya dan karena ketidamencolokannya. Aku tahu ini bunga yang ia maksud. 

“Ia hanya mekar selama 2 hari. Untuk kemudian layu dan gugur. Perlu waktu 6 bulan baginya untuk memunculkan kuncup baru”, jawab si Tukang Dayung pada pertanyaan bisuku. Enam bulan, adalah waktu yang sama sejak kamu meninggalkanku. Dan waktu selama itu dilalui rumpun bunga ini untuk memunculkan kuncup baru.

“Mengapa?” tanyaku. Ia tak menjawab, hanya diam dan mulai membawa rakitnya menjauh. Aku menghalaunya, aku masih ingin melihat bunga itu. “Besok masih ada satu hari lagi, kalau kamu ingin lihat”. Aku mengalah, dan hari itu adalah hari terpendekku di danau semenjak 6 bulan lamanya aku menyendiri di sini.
 
Si Tukang Dayung tak merasa heran aku datang lebih pagi dari biasanya hari itu. Ia hanya tersenyum, senyum pertamanya, dan mulai membawa rakitnya menjauh dari tepi danau. “Di pagi hari, bunga itu akan kelihatan lebih indah”, ujarnya pelan, diiringi suara kecipak air saat bertemu dengan kayuhan dayungnya. Aku menerawang. Semalaman aku masih memikirkan Bunga Sepi itu. Ini kali pertama aku datang tanpa motivasi tentang dirimu, aku datang karena ingin melihat Bunga Sepi yang hanya mekar selama 2 hari. Aku datang pagi ini karena hari ini hari terakhir Bunga Sepi memamerkan kesederhanaan mahkotanya pada danau, pada air, dan pada seorang gadis asing yang baru saja mengenalnya.
 
“Ia akan mekar lebih indah di hari terakhirnya. Diwaktu subuh, bau wangi akan menyebar, lalu hilang perlahan-lahan menjelang petang”. Kami sudah sampai di ujung danau, tempat bunga itu berada. Sudah melewati waktu subuh, bau wangi bunga ini sudah tak begitu kentara. Tapi aku melihat mahkotanya lebih mekar dari hari kemarin dan ada sedikit sentuhan warna merah jambu di pusat mahkotanya. Warna indah itu mengelilingi putik yang sendirian tanpa adanya benang sari. Aku baru saja akan bertanya ketika si Tukang Dayung berkata, ”Karena kesendiriannya, yang membuat ia begitu istimewa.”

Ya, mengapa bunga itu sendiri? Mengapa dia tak mencoba untuk membiakkan dirinya, hingga ia punya banyak teman? Kamu tahu alasannya? Apa mungkin ia seperti aku, yang menunggumu, tak berujung, tak bertepi, 6 bulan lamanya. Selama dua hari saja aku akan menampakkan kecantikanku, keistimewaanku, untuk menyambutmu datang. Walaupun aku tahu, akhirnya memang kamu tak datang. Bukan merupakansebuah bentuk kekecewaan jika aku kemudian layu dan gugur. Bukan merupakan bentuk putus asa juga jika aku berdiam selama 6 bulan lamanya. Itu hanya aku, mencoba menyimpan semua gambaran-gambaran indah yang masih ada di ingatan. Ketika aku memandang matamu, ketika pandangan kita terkunci. Itu hanya aku, yang tak ingin ingatan itu hilang. 

Aku tersadar ketika rakit mulai menjauh. Aku protes pada si Tukang Dayung. Mengapa, padahal hari belum juga beranjak senja. Aku hanya ingin melihat hari terkahir bunga itu.

“Tak ada gunanya melihat seseorang yang beranjak rapuh dan menyerah jatuh. Lebih berguna melihat bagaimana orang itu terdiam, menunggu dalam harapan selama enam bulan berikutnya”, kata si Tukang Dayung menjawab protesku. Dayungannya berhenti. Kami berdua diam di tengah danau, dengan angin menerbangkan ujung-ujung rambutku. Dia berjalan mendekatiku, menatapku seperti saat kali pertama ia menatapku dulu. Tangannya menelusuri garis wajahku, berhenti di daguku dan mengangkatnya sedikit. 

“Tak ada yang lebih menyedihkan sekaligus membahagiakan melihat seseorang yang menyimpan harapan untuk menunggu, selama apapun. Walaupun harapan itu bukan untukku, walaupun aku tahu orang itu tidak menungguku. Aku cukup bahagia hanya menjadi bayangan. Hanya menjadi angin. Hanya menjadi tanah. Hanya menjadi air danau. Atau hanya menjadi si Tukang Dayung, yang datang tiap hari untuk menjengukmu”.

Ia berlutut, hingga tinggi badan kami sejajar. Aku membeku oleh tatapannya. Aku tak berusaha menepis tangannya yang masih memegang daguku. Dia mendekatkan bibirnya, mencondongkan badannya, dan menarik wajahku. Dikecupnya pelan keningku, hangat dan lembut. Aku terpejam, hingga tak sadar ia sudah kembali ke tempatnya semula, mengayuh  dayungnya kembali menuju tepi danau.

***

Aku tak pernah kembali lagi ke danau itu. Aku tak pernah menyempatkan diri untuk sekedar berjalan di tepinya, atau berusaha melihat di kejauhan. Aku pergi sehari setelah Bunga Sepi itu gugur. Aku menghapus semua ingatan tentang danau, tentang Bunga Sepi, dan tentang kamu. Kamu sudah seperti album foto kusam yang tersimpan di almari memoriku yang paling dalam. Aku tahu kamu sudah hidup menjadi kenangan dan menjadi khayalan, karena kamu tak pernah ada. Satu-satunya janji yang aku ingat yang aku ucap pada diriku sendiri, enam bulan lagi aku akan mendatangi pemuda itu. Si Tukang Dayung. 

Dia mungkin hadir bersama desau angin dan bau khas danau yang sepi dan hijau itu. Mungkin ia akan menyambutku tanpa berkata apa-apa, ia mungkin hanya akan membawaku menyusuri tepi  dan berujung pada Bunga Sepi. Ia mungkin hanya akan mengajakku melihat mekarnya Bunga Sepi yang hanya dua hari. Namun ia akan sadar, bunga itu juga mekar di mataku saat dia memandangnya. Menyelami kedalamannya. Dan ia akan sadar bahwa aku sudah tidak menunggu siapa-siapa. Dialah yang menungguku.

With love
23 September 2010.
07.00-08.34
Magelang
*) pic from here and here

10kata temen-temen: