Kakek

Labels:


“Kakek, aku anter aja ya”, ucap Cucu pada Kakek saat melihat Kakek sedang bersiap-siap untuk rutinitas hari Sabtunya. Kakek menggeleng pelan. Rahangnya mengeras. Kakek meraih peci hitamnya dan kruknya.

Cucu hanya geleng-geleng kepala, sambil melempar pandangan bertanya pada Ibu. Yang dipandangi hanya mengambil napas panjang, dan memilih untuk tidak berkomentar dan masuk ke kamar. Merasa tidak mendapat jawaban, Cucu hanya mendesah dan meneruskan kesibukannya di depan komputer.

Usia Kakek sudah hampir 90 tahun. Rambutnya sudah putih sempurna, tipis dan botak di bagian tertentu. Kulitnya keriput karena usia, punggungnya juga sudah bungkuk. Mantan pejuang ’45 ini harus menggunakan kruk untuk berjalan karena kaki sebelah kirinya tak ada di tempat seharusnya. Kakek kehilangan kaki kirinya ketika pertempuran di Yogyakarta pada saat Agresi Militer Belanda II. Menjadi seorang veteran perang tak membuat Kakek bahagia dan tentram di sisa-sisa hari tuanya. Rumahnya tetap saja sepetak kecil, berdinding setengah permanen. Satu-satunya “penghargaan” yang dimilikinya adalah sebuah piagam yang kini menguning dan usang di dinding ruang tamu.

Sebelum berangkat, Kakek memandang potret hitam putih dirinya dan Nenek yang ia simpan di saku jas coklatnya. Ia pandang dengan mata berkaca-kaca, untuk kemudian ia masukkan lagi ke tempat semula. Setelah meraih buku yang ia simpan baik-baik di almari dan memasukkannya ke kantong plastik bersama Alqu’an yang sebelumnya telah ada di dalamnya, Kakek berangkat.

“Pagi kek!. Sudah mau berangkat?”, sapa Tetangga melihat Kakek keluar rumah.

“Iya. Monggo.

Nggeh, ngatos-atos mbah”.

Kakek berjalan pelan dengan kruknya, menyusuri jalanan kotanya yang ramai, menyusuri kali, menyeberang lewat jembatan, melewati hiruk pikuk pasar, menyapa beberapa orang yang telah ia kenal, dan sesekali menepuk-nepuk saku jas coklat sebelah kirinya. Kegiatan favorit Kakek sepanjang perjalanan adalah menerawang jauh menembus waktu, di mana kota ini masih seperti ingatannya yang dulu. Selayaknya foto hitam putih yang telah menguning dan kusam, Kakek melihat kotanya yang dulu sepi kini telah ramai. Ia membayangkan manusia-manusia ini adalah cucu-cucu dari teman-teman seperjuangannya. Beranak pinak, membentuk keluarga, membentuk komunitas, dan akhirnya menjadikan kota ini telah banyak berubah.

Langkah kaki Kakek berhenti pada segundukan tanah bernisan, di kompleks pemakaman yang tak terlalu luas. Kakek duduk di selembar kertas koran dengan susah payah, meletakkan kruknya, dan terdiam sejenak memandang kuburan di depannya.

Sri Lestari, wafat 12-08-1997”. Begitu yang tertulis di nisan. Di tempat inilah Nenek dikuburkan lebih dari 10 tahun yang lalu. Nenek telah mendampingi hidup Kakek selama lebih dari 50 tahun. Kakek mengusap pelan air yang keluar dari matanya, kemudian ia mengambil alqur’an dan mulai membacakan doa untuk Nenek. Khusyuk dan khidmat Kakek membaca doa-doa untuk Nenek. Bagi Kakek, doa-doa ini khusus ia panjatkan sebagai tanda cintanya pada Nenek, pada perempuan yang ia cintai pada pertemuan pertama mereka, pada wanita yang telah mendampinginya selama sisa hidupnya. Kakek berharap, dengan doa-doa yang ia panjatkan ini, Kakek dapat bersama-sama Nenek kembali nanti di tempat yang kekal dan bahagia.

Selesai membacakan doa, Kakek mengambil sebuah buku usang yang berwarna kekuningan. Buku favorit Nenek. Sebuah cerita silat jaman dahulu, terbitan tahun 1960. Ejaannya masih lawas, kertasnya juga sudah lapuk karena seringnya dibaca dan karena faktor usia. Kakek membuka halaman tertentu yang terlipat, dan meneruskan bacaannya yang terhenti Sabtu lalu. Perlahan, Kakek mulai mendongengi Nenek.

***

“Kek, makan dulu kek”, Cucu mengingatkan Kakek yang sedang duduk di samping jendela, menerawang ke luar. Kakek tak menjawab.

“Kek, makan dulu. Mumpung masih hangat. Nanti Kakek sakit”, lanjut Cucu. Kakek menoleh pelan, kedua alisnya bertemu, mukanya masam. “Nanti!”, jawab Kakek agak keras. Cucu beringsut perlahan dan mengalah.
 
Kakek selalu menghabiskan sore berhujannya hanya dengan duduk di samping jendela, dengan mata menerawang ke halaman, ke pelataran yang basah oleh hujan, ke pohon-pohon yang basah kuyup, ke binatang-binatang air yang berpesta, dan ke kejauhan seakan di sana ada seseorang yang menunggunya. Hujan adalah mesin waktu baginya, suasana yang dingin dan biru ini membantu Kakek untuk melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Saat Nenek masih ada, istri tercintanya yang paling setia. Nenek akan membuatkannya secangkir kopi panas jika hujan turun. Kakek dan Nenek kemudian akan bercengkerama di ruang tamu, membicarakan apa saja sambil mendengarkan nyanyian hujan.

Nenek akan mulai memijatnya, mendengarkan keluh kesahnya, dan menyelimutinya jika ia tertidur. Kakek juga teringat, Nenek akan menungguinya sampai malam larut jika Kakek tak kunjung pulang. Tanpa kantuk, tanpa keluh. Kemunculan Kakek di pagi buta hanya disambut dengan senyum dan secangkir teh hangat. Cinta Nenek yang tak bersyarat, yang tulus, yang setia itulah yang membuat Kakek sangat rindu padanya.
 
***

Sabtu yang kesekian, Kakek meraih kruknya dan bersiap seperti biasa. Cucu sudah berusaha keras untuk mengantar Kakek ke kuburan, namun tetap saja Kakek dengan keras kepala mengatakan tidak. Momen berjalan di sepanjang jalan bagi Kakek adalah momen berduanya dengan Nenek, tak ada seorangpun yang mengganggunya.

“Kakek, biar Kakek mboten kehujanan. Kan kalau saya antar, Kakek cepat sampai. Sudah mendung sekali, Kek”, bujuk Cucu. Cuaca memang sedang mendung di luar. Awan gelap sudah menunggu, tinggal satu sentuhan saja mungkin hujan akan turun. Akan tetapi Kakek tetap menggeleng. Ia melangkah keluar dan berpesan, “Mengko wae, kamu rapikan rumah. Mau ada tamu”.

Kakek menyusuri jalanan yang sudah ratusan kali ia lewati, ia sudah hapal kerikil-kerikilnya, ia sangat hapal orang-orang yang akan ia temui sepanjang jalan. Ia melewati jembatan, melihat sebentar sungai di bawahnya, kembali meneruskan perjalanan dengan kruknya, dengan satu kakinya. Kakek memandang di kejauhan, mengira-ngira berapa lama lagi ia harus bersabar menunggu seperti ini, berapa lama lagi ia bisa berkumpul lagi dengan orang yang ia sayangi. Orang yang kepadanya telah ia bagi hidupnya selama setengah abad. Kakek hanya menduga-duga, dan di tengah lamunannya itu Kakek melihatnya. Kakek melihat perempuan yang begitu ia rindukan, dalam balutan kebaya putih dan kerudung putih. Kakek melihat perempuan yang sangat ia nantikan di seberang sana. Kakek percaya sepenuhnya, dia adalah Nenek. Hanya saja wajahnya menjadi jauh lebih muda, badannya tidak membungkuk, kulitnya tak keriput. Ia adalah wanita yang sama yang telah hidup bersamanya.

Setengah berlari, Kakek menghampirinya. Berusaha memanggil namanya, agar perempuan itu menunggunya, agar perempuan itu tak memalingkan wajahnya dari Kakek. Perasaan euforia menyelimuti Kakek, belum pernah ia sebahagia ini. Kakinya terseok-seok mengikuti tubuhnya yang ingin segera sampai di tujuan. Saat itulah, di tengah jalan, kruknya terlepas dari pegangan.

Keseimbangan Kakek goyah. Ia jatuh tertelungkup. Kruknya terjatuh agak jauh disebelah kirinya. Perempuan itu masih melihatnya, Kakek tersenyum padanya. Kakek tak merasakan sakit tatkala mobil yang gagal mengerem tepat saat dirinya jatuh tersungkur itu melintas di atas tubuhnya. Kakek hanya tersenyum.

Beberapa saat kemudian hujan turun. Perempuan berjilbab dan berkebaya putih itu sudah tak ada di sana. Jasad Kakek ditemukan sedang menggenggam potret hitam putih dirinya dan Istri tercintanya.


Keterangan:
Monggo             = silakan
Nggeh, ngatos-atos mbah    = Ya, hati-hati kek
Mboten                = tidak
Mengko wae        = nanti saja

*) pic from here


******
Mengapa sapidudunk tiba-tiba membuat cerpen?
lagi pengen aja. Seminggu ngga ada kerjaan, jadinya iseng-iseng bikin.

Tujuannya?
buat mengetahui aja, apakah aku ada bakat nulis cerpen atau engga

Kalau cerpennya jelek?
Ngga masalah, thats why i posted it on my own blog. jadi kemungkinan buat dimuat 100%

Kalau pembaca pada mencaci-maki?
Itu salah satu tujuan yang lain. Aku malah bersyukur kalau ada yang ngata-ngatain, asal ngata-ngatainnya jujur. Biar ada motivasi buat aku untuk bikin yang lebih baik lagi.

Ada pesan dan kesan?
Yah, emang buku kenangan ya pake kesan dan pesan -__-

(obrolan ngga jelas) :)

7kata temen-temen: