Never Ending Asia


Aku cinta jogja, seperti aku mencintai hujan yang turun sehabis siang yang terik
Aku cinta Jogja, seperti aku menyayangi kakak laki-laki yang ngga pernah kumiliki
Aku menyukai Jogja, dengan segala kekurangannya. Dengan berjuta kenangan yang ada di dalamnya. Di antara gemerlap lampu lesehan, di sela-sela canda tawa di angkringan, atau cuma sekedar salam sapa di pagi hari oleh tukang sayur di pasar.

Jangan, jangan lukai Jogja rakyatnya yang welas asih, yang menawarkan "rumah"ketika banyak oang kehilangan makna, Jogja yang akan tetap memberikan senyum bahkan ketika berselimut putih abu merapi. 
Memang bukan Jogja-KU, tapi banyak orang jatuh cinta padanya, bahkan sejak langkah pertama menginjakkan kaki di sana. Bukan, Jogja bukanlah duri dalam demokrasi, dia hanya sekedar anomali yang sangat pantas untuk dimaklumi. Dengan segenap perjuangan rakyat dan Sultannya dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah air, yang saat ini digegap gempitai oleh orang-orang terHORMAT di senayan sana, yang saat ini berkuasa dan sedang amnesia.


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
Mari sama-sama berdoa, untuk Jogja kita semua, simbol budaya, simbol bahwa kita pernah menjadi orang yang berbudaya luhur dan timur. Agar orang-orang terhormat di sana, segera sembuh dari amnesia sejarahnya. bahwa Jogja adalah bagian dari tanah air kita tercinta, karena tanpanya, bukan Indonesia lagi namanya :(


*p.s Untuk semua kenangan masa lalu, kenyataan masa kini, dan harapan masa depan; di kota indah itu

8kata temen-temen: