In between stuff?



Setiap manusia sudah diperbudak oleh kebutuhannya, bukan keinginannya. Ia menukarkan  kebebasan dirinya hanya demi uang untuk makan, untuk hidup yang membosankan, untuk hidup yang ngga ada gairah. Rutinitas eight to five adalah sebuah kewajiban tersumpah yang mesti dijalani hingga usia senja. 

So, what will you got?

Aku membayangkan ketika aku mati nanti, beberapa saat sebelum nafas terakhir, aku merasa menyesal, karena tidak sempat melakukan bungee jumping, tidak sempat berkeliling eropa, tidak sempat berkenalan dengan tetangga sebelah, atau tidak sempat mencuri sebuah buku langka dari perpustakaan Vatikan. Ah, muluk-muluk emang, cuman semuanya kerasa ngga ada gunanya lagi ketika kemudian aku mempertanyakan, 

"buat apa sih hidup ini? Kok hidup gue cuma diisi berangkat subuh-macet-kerja-ngenet-ngga ada kerjaan-ngobrol-makan siang-pulang malem-macet lagi-makan lagi-tidur-berangkat subuh? Kalau misalnya gue ngga ada, apakah ada perubahan, sedikit aja, di sistem brengsek yang juga udah memenjarakan banyak orang ini?"

Kadang aku berpikir, menjadi orang hebat macam Mahatma Gadhi, atau Parmoedya Ananta Toer itu mudah banget. Mereka tinggal melakukan apa yang pengen mereka lakukan di hidup mereka. Kok? Ya iya, karena jarang orang macam mereka yang berani keluar dari sistem negara dan sistem hidup monoton ini, kebanyakan memilih tinggal di dalam karena banyak temennya, dan ogah buat bersusah-susah diluar sana. Yang penting cari duit! Ah, menghamba pada uang kan ujungnya cuma kata ngga cukup dan kecewa saja. Kelas masyarakat dan harga tiket yang harus dibayar pada rowsheat paling depan ditentukan oleh berapa banyak mobil yang nganggur di garasi rumah dan yang menuh-menuhin jalan jakarta? Naif banget ternyata manusia. dan sayangnya aku termasuk di dalamnya.

Hell!

*pic from here

2kata temen-temen: