Please, Stay

0


hands, pale, and grunge image
weheartit.com

Ia sedang asyik membaca bukunya, tidak peduli dengan sekeliling. Dengan iringan lagu dari Banda Neira, band indie yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya, ia tenggelam di alam imajinasinya sendiri. Barang bawaannya selalu tak banyak; satu koper untuk pakaian dan satu tas kecil untuk barang-barang kebutuhannya yang penting. Pekerjaannya membuat ia sering bepergian, sehingga ia merasa tak penting membawa banyak hal, terutama barang-barang yang bisa ia temukan di kota tujuannya nanti. Perlengkapan pribadi yang wajib dan tak boleh ketinggalan hanyalah buku, dan headset yang telah menemaninya selama hampir 2 tahun. 

Sore itu seperti sore-sore biasanya. Ia sedikit mengantuk karena tadi malam hanya tidur sebentar, demi mempersiapkan presentasi yang akan ia tampilkan di hadapan kliennya nanti. Itulah, ia berencana untuk tidur saja selama di pesawat nanti. 

Lagu "Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti" sedang mengalun syahdu di telinganya, ketika panggilan terdengar. Waktu keberangkatan akan segera tiba. Ia simpan buku dan memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjing, siap berdiri dan menarik koper yang ada di sampingnya. 

Tetiba pandangannya membeku, seolah tak percaya pada apa, atau siapa, yang berdiri sekitar 10 meter di hadapannya. 

Ia.. Ia masih memikirkan kemungkinan bahwa ia hanya berhalusinasi. Tapi, jauh di dalam hati kecilnya ia tahu, bahwa ia benar. Wajah yang ada di hadapannya, begitu asing, namun begitu akrab di pikirannya. Wajah yang ia lihat hanya dalam foto saja. Wajah yang sempat ia impikan bertahun-tahun lalu. 

"Hei.. ", sapa pria itu. 

Ia hanya bisa terdiam, mematung. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia ingin berlari memeluk orang ini. Namun, ia juga ingin berpaling dan pergi meninggalkannya. Di sisi lain, ada keinginan untuk mendekat dan menamparnya kencang-kencang. 

Akhirnya ia tak melakukan ketiganya. Ia hanya berdiri, dan terdiam. 

"Apa kabar?", Tanya pria itu. 

Pertanyaan macam apa itu, pikirnya. Setelah apa yang ia lakukan, hanya pertanyaan itukah yang sanggup ia lontarkan? Tapi, mau tak mau, ia pun menjawab, "Baik.". 

"Akhirnya kita bertemu, di sini", ujar pria itu. 

"Iya", hanya itu yang sanggup ia ucapkan. Matanya membasah, air matanya menggenang. Siap untuk tumpah. Seluruh kenangan yang ia kubur dengan sekuat tenaga dulu, kini seolah tak terbendung dan meluap ke semua sisi pikirannya. Tawa bahagia, telepon malam-malam, pesan-pesan sayang dan mesra, puluhan foto-foto, lelucon yang tak lucu, cerita-cerita, tangis, patah hati, semuanya tumpah ruah. 

Perlahan aliran hangat jatuh di pipi, dan ia tak berusaha untuk menutupinya lagi. Untuk apa? 

Panggilan kedua untuknya mengudara di ruang tunggu. Ia tersadar sejenak. Memutuskan sesuatu di kepalanya, dan melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti. 

Sang pria menangkap tangannya sebelum ia pergi semakin jauh. 

"Kumohon. Aku tahu permintaan maaf sudah terlambat. Tapi takdir membuat kita bertemu di sini. Ini satu-satunya kesempatanku. aku ngga mau lepasin kamu lagi, Na. Kumohon, jangan pergi."

Perlahan ia melepaskan tangan pria yang mencengkeram lengannya. Dengan mata penuh air mata, ia tak bilang apa-apa, berjalan menjauh..